Ilustrasi foto bermain social media
Terasmuslim.com - Di era ketika fitnah tersebar cepat melalui media sosial, hiburan, dan opini publik, menjaga aqidah menjadi tantangan besar bagi setiap muslim. Allah telah memperingatkan bahwa fitnah bisa menimpa siapa saja tanpa pandang bulu. Allah berfirman, “Dan takutlah kalian terhadap fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian” (QS. Al-Anfal: 25). Ayat ini menunjukkan bahwa ketika nilai-nilai agama ditinggalkan, fitnah dapat merusak keimanan masyarakat secara luas, termasuk mereka yang sebelumnya kuat.
Rasulullah ﷺ menggambarkan bahwa di akhir zaman, seseorang dapat beriman di pagi hari lalu menjadi kafir di sore hari karena dahsyatnya fitnah (HR. Muslim). Ini menandakan bahwa iman sangat rentan bila tidak dijaga dengan ilmu dan amal. Arus informasi yang tidak terfilter, ajakan kemaksiatan yang dinormalisasi, serta opini yang memutarbalikkan kebenaran membuat aqidah seseorang bisa terkikis secara perlahan tanpa disadari. Karena itu, menjaga hati lebih sulit di zaman ini dibanding generasi sebelumnya.
Penjagaan aqidah dimulai dari menuntut ilmu yang benar. Allah berfirman, “Maka ketahuilah bahwa tiada ilah selain Allah” (QS. Muhammad: 19). Ilmu tauhid adalah benteng pertama yang melindungi seorang muslim dari kesesatan. Dengan memahami dalil, mengenal sifat-sifat Allah, dan mengetahui bentuk penyimpangan aqidah, seorang muslim dapat memilah mana kebenaran dan mana fitnah. Tanpa ilmu, seseorang mudah terseret oleh tren, tokoh populer, atau konten viral yang menyesatkan.
Selain ilmu, memperbanyak dzikir, memperkuat ibadah, dan menjaga lingkungan pergaulan juga menjadi kunci. Rasulullah ﷺ bersabda, “Hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat,” dan beliau menjelaskan bahwa pembersihnya adalah dzikir kepada Allah (HR. Tirmidzi). Lingkungan yang saleh, teman yang mengajak pada kebaikan, serta rutinitas ibadah menjaga hati tetap hidup dan stabil di tengah gempuran fitnah. Inilah strategi seorang muslim untuk menjaga aqidah hingga akhir hayat.