• KEISLAMAN

Ini Berbagai Pantangan di Bulan Suro yang Masih Dipercaya Masyarakat

M. Habib Saifullah | Selasa, 16/06/2026
Ini Berbagai Pantangan di Bulan Suro yang Masih Dipercaya Masyarakat Ilustrasi foto bulan Muharram

Terasmuslim.com - Datangnya bulan Suro, yang bertepatan dengan momen Tahun Baru Islam atau 1 Muharram dalam kalender Hijriah, selalu menempati posisi sakral dalam kosmologi kebudayaan masyarakat Jawa.

Bagi sebagian besar masyarakat yang masih memegang teguh adat istiadat leluhur, bulan ini dianggap sebagai waktu yang penuh spiritualitas sekaligus kedewasaan spiritual (muhasabah).

Dalam tradisi lisan dan petuah turun-temurun, terdapat sejumlah aktivitas yang dinilai tabu untuk dilakukan sepanjang bulan Suro.

Melansir dari berbagai sumber, berikut ini beberapa pantangan di bulan Suro yang masih melekat kuat di tengah masyarakat:

1. Menggelar Hajatan Besar (Pernikahan)

Salah satu pantangan yang paling populer dan masih dipatuhi hingga hari ini adalah larangan mengadakan pesta pernikahan atau hajatan besar lainnya di bulan Suro.

Menurut kepercayaan tradisional, melaksanakan pernikahan di bulan ini dikhawatirkan dapat mendatangkan kesialan atau ketidakharmonisan bagi pasangan pengantin baru.

2. Membangun atau Pindah Rumah

Masyarakat Jawa tradisional umumnya menghindari renovasi besar, mendirikan fondasi rumah baru, hingga melakukan pindah rumah (boyongan) sepanjang bulan Suro.

Aktivitas ini dipercaya bisa membawa energi negatif bagi penghuninya kelak. Para tetua adat biasanya menyarankan untuk mencari hari baik di bulan-bulan lain setelah Suro berlalu.

3. Memulai Bisnis atau Usaha Baru

Membuka warung, meluncurkan perusahaan, atau memulai investasi besar di bulan Suro juga menjadi hal yang dihindari oleh sebagian pelaku usaha tradisional.

Ada kekhawatiran bahwa bisnis yang dirintis di bulan sakral ini akan sepi pembeli atau mengalami kerugian. Alih-alih melakukan ekspansi, bulan ini justru kerap dijadikan momentum untuk mengevaluasi kinerja usaha yang sudah berjalan.

4. Melakukan Perjalanan Jauh Tanpa Keperluan Mendesak

Masyarakat zaman dahulu sering kali melarang anak-cucu mereka bepergian jauh ke luar kota, terutama pada malam satu Suro, jika tidak ada urusan yang benar-benar penting atau mendesak.

5. Mengucapkan Kata-Kata Kotor atau Menghujat

Menjaga lisan menjadi pantangan spiritual yang sangat ditekankan di bulan Suro. Masyarakat dilarang keras mengumpat, memfitnah, atau berucap buruk karena dipercaya doa buruk atau ucapan negatif bisa berbalik menjadi kenyataan (kewalat).

6. Keluar Rumah pada Malam Satu Suro

Secara khusus, pada malam pergantian tahun (malam satu Suro), beredar mitos larangan untuk keluar rumah selepas magrib atau tengah malam, kecuali untuk keperluan ibadah atau ritual adat seperti tapa bisu (berkeliling benteng tanpa berbicara).