Terasmuslim.com - Hidayah adalah anugerah Allah, tetapi bukan sesuatu yang datang tanpa usaha. Dalam QS. Al-Ankabut: 69, Allah menegaskan bahwa “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya akan Kami beri petunjuk kepada jalan-jalan Kami.” Ayat ini menunjukkan bahwa petunjuk Allah diberikan kepada mereka yang berusaha mendekat, bukan sekadar menunggu tanpa tindakan. Hidayah menuntut langkah nyata seperti memperbaiki ibadah, menjauhi maksiat, dan memperbanyak doa.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jari Allah, dan Beliau sering berdoa: “Ya Allah, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan bahwa bahkan Nabi pun terus meminta hidayah, menandakan bahwa petunjuk harus diusahakan dengan sungguh-sungguh, bukan ditunggu sampai hati merasa siap dengan sendirinya.
Dalam Al-Qur’an, Allah memperingatkan agar manusia tidak menunda-nunda untuk kembali kepada-Nya. QS. Az-Zumar: 53 menyeru: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” Ayat ini mengajak manusia untuk segera bertaubat dan mencari petunjuk sebelum terlambat. Menunda hidayah sama saja menunda keselamatan, padahal ajal tidak menunggu kesiapan manusia.
Karena itu, pertanyaannya bukan lagi “kapan hidayah datang,” tetapi “kapan kita mulai menjemputnya.” Islam mengajarkan bahwa hidayah diraih dengan usaha: memperbaiki salat, memperbanyak dzikir, mencari ilmu, menghadiri majelis kebaikan, dan menjauhi dosa yang menghalangi cahaya petunjuk. Siapa yang melangkah menuju Allah, maka Allah akan mendatangi dirinya dengan lebih cepat. Hidayah bukan ditunggu, tetapi harus dikejar sebelum pintu kesempatan tertutup.





























