Ilustrasi mengibarkan bendera Merah Putih (Foto: Pexels/Ruly Nurul Ihsan)
Terasmuslim.com - Bendera bukan sekadar simbol negara, tapi juga perwujudan identitas, nilai, dan sejarah panjang sebuah bangsa. Seperti Turki dengan bulan sabit dan bintang, atau Arab Saudi dengan kaligrafi syahadat, Indonesia punya Merah Putih—sederhana, namun sarat makna. Merah melambangkan keberanian, perjuangan. Putih menggambarkan keikhlasan dan kesucian. Bersama, keduanya menyimbolkan perjuangan penuh ketulusan.
Namun tahukah Anda? Warna merah dan putih dalam bendera Indonesia ternyata memiliki jejak historis yang diyakini berasal dari sabda Rasulullah SAW.
Dalam sebuah riwayat sahih yang disampaikan oleh Tsauban, Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah memperlihatkan kepadaku bumi dari Timur hingga Barat, dan kekuasaan umatku akan mencapai seluruh tempat yang diperlihatkan itu. Aku diberikan dua simpanan: Merah dan Putih."
(HR. Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
Dikutip dari laman Nahdlatul Ulama, hadits ini tak hanya menyingkap potensi kekuasaan umat Islam yang mendunia, tetapi juga memuat simbolik "merah dan putih" yang menarik untuk ditelusuri.
Menurut penjelasan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, “merah” merujuk pada emas, dan “putih” merujuk pada perak—dua simbol kekayaan dan kejayaan. Ada pula tafsir lain yang menyebut bahwa “merah” melambangkan kerajaan Syam (Levant) dan “putih” melambangkan kerajaan Persia. Imam Nawawi menegaskan bahwa dua warna itu menggambarkan harta simpanan Kaisar dan Kisra, simbol dua kekuatan besar dunia saat itu: Romawi dan Persia.
Warna merah dan putih dalam konteks ini mengandung makna kejayaan, kekayaan, dan pengaruh yang meluas. Sebagian ulama dan tokoh agama, seperti KH Abdullah Habib Faqih (menukil kisah dari Habib Husain bin Abu Bakar Al-Idrus Luar Batang), meyakini bahwa hadits inilah yang menginspirasi para pendiri bangsa dalam memilih warna bendera Indonesia.
Namun, hadits tersebut tak berhenti pada janji kejayaan. Rasulullah melanjutkan sabdanya dengan sebuah peringatan:
"Aku meminta kepada Tuhanku agar umatku tidak dibinasakan oleh musim paceklik yang parah, dan tidak dikuasai oleh musuh dari luar mereka. Namun, Allah berfirman bahwa mereka tidak akan dibinasakan oleh bencana umum atau musuh dari luar, melainkan akan saling menghancurkan satu sama lain."
(HR. Muslim no. 2889)
Inilah peringatan sekaligus pelajaran penting bagi umat Islam, termasuk bangsa Indonesia. Bahwa sebesar apapun kejayaan dan kekuatan yang dimiliki, kehancuran justru bisa datang dari dalam—perpecahan, fitnah, dan pertikaian antarsesama.
Dengan demikian, Merah Putih bukan hanya refleksi keberanian dan keikhlasan, tetapi juga lambang kejayaan yang pernah dijanjikan pada umat ini, serta peringatan agar tidak terjebak dalam konflik internal. Karena sejarah mencatat: pasca wafatnya Rasulullah, umat Islam memang diuji dengan fitnah besar, perang saudara, hingga perpecahan yang panjang.
Di tengah tantangan zaman dan krisis identitas, memahami makna filosofis ini menjadi relevan. Bendera bukan hanya dikibarkan, tapi juga dimaknai dan dihidupi. (*)
Wallohu`alam