• KEISLAMAN

Bulan Safar Bukan Bulan Sial, Ini Penjelasan Ulama

Agus Mughni Muttaqin | Sabtu, 26/07/2025
Bulan Safar Bukan Bulan Sial, Ini Penjelasan Ulama Ilustrasi bulan Safar (Foto: Tebuireng Online)

Terasmuslim.com - Setiap kali bulan Safar datang dalam kalender Hijriyah, sebagian masyarakat masih memandangnya sebagai bulan sial. Pandangan ini tumbuh dari warisan budaya lama yang belum sepenuhnya luruh oleh nalar dan ajaran agama. Menurut kebanyakan ulama pandangan itu ternyata tidak sepenuhnya benar, datang dari masa jahiliyah atau pra Islam.

Dikutip dari laman Nahdlatul Ulama dan Kemenag Sulut, kepercayaan itu berasal dari masyarakat Arab sebelum Islam yang menganggap bulan Safar sebagai masa rawan, karena banyak rumah ditinggalkan untuk berperang atau bepergian jauh. Dari kondisi sosial inilah lahir anggapan bahwa Safar adalah bulan kosong dari keberkahan, lalu perlahan disalahpahami sebagai bulan pembawa musibah.

Dalam penjelasan Ibnu Manzhur dalam Lisanul `Arab, istilah Safar bermakna "sepi" atau "kosong", karena saat itu orang-orang Arab biasa mengosongkan rumah mereka dan memanen seluruh hasil tani sebelum pergi menghadapi konflik antarkabilah. Tradisi ini memperkuat kesan bahwa bulan Safar identik dengan kekosongan dan kekhawatiran.

Namun, ajaran Islam datang dengan membawa pelurusan makna. Rasulullah Muhammad Saw secara tegas membantah kepercayaan bahwa bulan Safar membawa kesialan melalui sabdanya:

"Tidak ada penyakit menular (yang berlaku tanpa izin Allah), tidak ada buruk sangka pada sesuatu kejadian, tidak ada malang pada burung hantu, dan tidak ada bala (bencana) pada bulan Safar." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menjadi garis tegas bahwa Islam menolak segala bentuk takhayul dan keyakinan tanpa dasar, termasuk anggapan tentang waktu-waktu tertentu yang diyakini membawa sial. Dengan kata lain, Safar memiliki nilai dan potensi yang sama dengan bulan-bulan lainnya dalam Islam.

Pandangan ini ditegaskan pula oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam karyanya Latha’iful Ma’arif. Ia menjelaskan bahwa bulan Safar tidak berbeda dengan bulan lain dalam hal keberuntungan maupun kesialan, karena semua itu adalah bagian dari takdir yang ditentukan oleh Allah.

Lebih jauh, Safar justru mencatat sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam. Momentum hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah, misalnya, merupakan tonggak sejarah yang terjadi pada bulan ini.

Selain itu, pernikahan Rasulullah dengan Khadijah binti Khuwailid juga terjadi di bulan Safar. Begitu pula pernikahan putri beliau, Fatimah Az-Zahra, dengan Ali bin Abi Thalib yang menjadi awal dari keturunan Ahlul Bait yang mulia.

Di masa pasca-Rasul, Safar menjadi saksi kemenangan kaum Muslimin atas pasukan Romawi dalam Perang Khaibar. Bahkan, penaklukan Persia pada masa Khalifah Umar bin Khattab juga terjadi di bulan yang sama.

Tak kalah menarik, pengangkatan Usamah bin Zaid sebagai panglima perang di usia 20 tahun juga terjadi pada bulan Safar. Keputusan ini menunjukkan bahwa Rasulullah menaruh kepercayaan besar kepada generasi muda, di tengah anggapan umum yang masih dilingkupi mitos.

Oleh karena itu, memandang Safar sebagai bulan musibah adalah bentuk ketidaktahuan terhadap sejarah Islam dan ajaran Rasulullah. Alih-alih memelihara ketakutan tak berdasar, umat Muslim seharusnya menjadikan Safar sebagai bulan evaluasi, refleksi, dan penguatan iman.

Dalam perspektif Islam, waktu tidak membawa sial maupun berkah dengan sendirinya, tetapi menjadi bermakna tergantung bagaimana manusia mengisinya. Safar bukan pengecualian. (*)

Wallohu`alam