Ilustrasi Hari Asyura menurut Islam
Terasmuslim.com - Hari Asyura yang jatuh setiap tanggal 10 Muharram menjadi momen penting bagi umat Islam. Namun, cara memperingatinya berbeda antara mazhab Sunni dan Syiah. Di kalangan Ahlus Sunnah, Hari Asyura identik dengan puasa dan syukur atas penyelamatan Nabi Musa dari kejaran Firaun. Sementara itu, bagi komunitas Syiah, Asyura diperingati sebagai hari duka atas wafatnya Imam Husain bin Ali di medan Karbala.
Perayaan Asyura versi Syiah kerap mencuri perhatian dunia karena digelar secara massal dan emosional. Lantas, bagaimana sebenarnya Islam memandang bentuk perayaan tersebut?
Ratapan massal hingga melukai diri
Kaum Syiah, khususnya di Iran, Irak, Lebanon, dan beberapa negara Asia Tengah, menjadikan Asyura sebagai hari berkabung nasional. Ribuan orang tumpah ruah ke jalan sambil melakukan prosesi matam, yaitu memukul dada sebagai bentuk duka. Sebagian kelompok bahkan menampilkan ritual yang lebih ekstrem seperti menyayat kepala atau tubuh dengan pisau, hingga berdarah-darah.
Pusat utama peringatan Asyura berada di Karbala, Irak. Setiap tahun, jutaan peziarah Syiah memadati kota tersebut untuk mengenang gugurnya cucu Nabi Muhammad ﷺ dalam tragedi berdarah pada tahun 680 Masehi.
Mayoritas ulama Islam dari kalangan Sunni menilai bahwa bentuk peringatan Asyura yang dilakukan dengan menyiksa tubuh tidak sejalan dengan tuntunan agama. Islam melarang tindakan yang menyakiti diri sendiri, sebagaimana ditegaskan dalam Alquran:
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan." (QS. Al-Baqarah: 195)
Rasulullah ﷺ juga pernah mengingatkan,
"Bukan dari golongan kami orang yang menampar pipinya, merobek bajunya, dan menyeru dengan seruan jahiliyah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ulama seperti Imam Ibnu Taimiyah dan Al-Syafi’i menyebut tindakan-tindakan tersebut sebagai bentuk bid’ah yang tidak pernah dicontohkan Nabi, para sahabat, maupun Ahlul Bait lainnya.
Menghormati Imam Husain dengan cara yang benar
Tidak ada perbedaan pendapat soal keutamaan Imam Husain bin Ali. Baik Sunni maupun Syiah mengakui beliau sebagai tokoh mulia yang gugur dalam memperjuangkan kebenaran. Namun, cara mengenangnya menjadi titik perbedaan.
Kalangan Sunni menekankan pentingnya mengambil hikmah dari pengorbanan Imam Husain, bukan dengan ekspresi duka berlebihan. Salah satu bentuk ibadah yang dianjurkan di Hari Asyura adalah puasa. Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,
"Puasa pada hari Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim)
Perlu edukasi dan klarifikasi
Perbedaan tradisi antara Sunni dan Syiah sudah berlangsung berabad-abad. Namun demikian, umat Islam dituntut untuk saling memahami tanpa harus terjebak pada konflik internal. Yang terpenting adalah menjaga ajaran agama agar tetap berada dalam jalur yang benar dan sesuai sunnah.
Dalam konteks perayaan Asyura, edukasi menjadi kunci. Islam tidak melarang bersedih, tetapi menetapkan batasan yang jelas agar kesedihan tidak berubah menjadi bentuk pelanggaran terhadap syariat.