• KISAH

Keteladanan Ulama Menolak Jabatan Demi Keagungan Agama

Yahya Sukamdani | Kamis, 06/08/2026
Keteladanan Ulama Menolak Jabatan Demi Keagungan Agama Ilustrasi foto imam berdakwah

Terasmuslim.com - Kisah para ulama salaf yang memilih menolak tawaran jabatan kekuasaan menjadi potret monumental dalam sejarah keteguhan iman Umat Islam.

Mereka dengan tegas menghindari posisi hakim (qadhi) maupun pejabat istana semata-mata karena takut tidak mampu menunaikan amanah secara adil.

Bagi para ulama tersebut, popularitas dan kemewahan yang melekat pada jabatan merupakan ujian berat yang dapat mengancam keselamatan akhirat mereka.

Ketakutan tersebut berakar pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Ahzab ayat 72: "Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia."

Ulama besar seperti Abu Hanifah bahkan rela menerima hukuman cambuk dan penjara daripada harus menerima tawaran posisi hakim agung dari penguasa.

Sikap pantang menyerah ini menunjukkan betapa tingginya kewaspadaan mereka terhadap potensi fitnah jabatan yang dapat merusak kemurnian niat.

Langkah ini sejalan dengan peringatan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Bukhari: "Sesungguhnya kalian nanti akan berambisi terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan dan kerugian pada hari kiamat."

Para ulama meyakini bahwa meminta atau terlalu berambisi mengejar kekuasaan justru menjadi pintu awal datangnya kegagalan dalam memimpin.

Prinsip tersebut diperkuat oleh hadis Nabi SAW riwayat Bukhari dan Muslim yang menegaskan bahwa bantuan Allah tidak akan diberikan kepada orang yang berambisi meminta jabatan.

Dalam pandangan ulama salaf, kebebasan dalam menyuarakan kebenaran jauh lebih berharga daripada gemerlap fasilitas keduniaan yang meninabukukan.

Allah SWT secara tegas mengingatkan kewajiban menegakkan keadilan tanpa pandang bulu dalam Surah An-Nisa` ayat 58: "Sungguh, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kamu menetapkannya dengan adil."

Sifat wara` dan ketakwaan yang mendalam membuat mereka lebih memilih hidup bersahaja daripada menanggung risiko kezaliman di tampuk kekuasaan.

Integritas moral yang tak tergoyahkan ini menjadikan sosok para ulama begitu berwibawa dan dihormati oleh masyarakat maupun penguasa pada zamannya.

Kisah penolakan jabatan ini menjadi cermin bening yang menguji kembali motivasi kita dalam mengemban setiap tanggung jawab di dunia.

Meneladani kehati-hatian para ulama salaf mengajarkan pentingnya menempatkan amanah sebagai beban moral yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.