• KEISLAMAN

Ujian Hakiki di Balik Tambahan Nikmat dan Harta

Yahya Sukamdani | Rabu, 29/07/2026
Ujian Hakiki di Balik Tambahan Nikmat dan Harta Ilustrasi foto pamer harta di sosial media

Terasmuslim.com - Masyarakat modern sering kali terjebak dengan mengukur keberhasilan seseorang sebatas pada pencapaian materi dan status sosial semata.

Padahal, para ulama menekankan bahwa bertambahnya nikmat tidak serta-merta menjadi indikator kemuliaan ataupun kebahagiaan sejati seorang hamba.

Al-Qur`an menggambarkan kekeliruan cara pandang manusia dalam menilai kenikmatan melalui Surah Al-Fajr ayat 15 hingga 16.

Allah SWT berfirman: "Maka adapun manusia, apabila Rabbnya meuncobanya lalu memuliakannya dan melebihkan kenikmatan kepadanya, maka dia berkata: `Rabbku telah memuliakanku`." (QS. Al-Fajr: 15).

Dalam ayat berikutnya, Allah menyentil sikap manusia yang merasa dihinakan saat rezekinya dibatasi, padahal keduanya adalah bentuk ujian kehidupan.

Setiap karunia baru yang diterima manusia pada hakikatnya membawa konsekuensi tanggung jawab dan pertanggungjawaban yang lebih besar di akhirat.

Pertanyaan utamanya bukanlah seberapa banyak nikmat yang diperoleh, melainkan apakah nikmat tersebut semakin mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta.

Rasulullah SAW telah mengingatkan agar umat Islam tidak terpedaya oleh gemerlap pencapaian duniawi semata.

Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya, dan itu hanya ada pada diri seorang mukmin." (HR. Muslim).

Beliau melanjutkan bahwa jika seorang mukmin mendapat kesenangan lalu ia bersyukur, maka hal itu menjadi kebaikan yang bernilai pahala baginya.

Sebaliknya, jika kenikmatan justru melahirkan kesombongan dan kelalaian, maka kemewahan tersebut telah berubah menjadi sumber malapetaka spiritual.

Keberhasilan hakiki dalam pandangan syariat diukur dari sejauh mana hati seseorang tetap terpaut pada ketaatan di tengah kelimpahan.

Harta, jabatan, serta popularitas yang tidak membimbing pemiliknya menuju jalan kebaikan hanya akan menjadi beban berat pada hari perhitungan kelak.

Oleh karena itu, hendaknya setiap tambahan rezeki disikapi dengan kewaspadaan tinggi serta peningkatan rasa syukur dan kepedulian sosial.

Mari kita senantiasa berdoa agar setiap nikmat yang Allah titipkan menjadi sarana penambah ketakwaan, bukan pemikat menuju jalan kehancuran.