Ilustrasi foto iri dengki dari medsos
Terasmuslim.com - Ruang digital hari ini telah berubah menjadi medan ujian keimanan yang paling nyata bagi setiap Muslim.
Banyak orang merasa bebas mengetik apa saja di balik layar gawai karena merasa identitas aslinya tersembunyi dengan aman.
Padahal, setiap ketikan, komentar, dan unggahan yang kita rilis tidak pernah luput dari pengawasan malaikat pencatat amal.
Allah SWT secara tegas mengingatkan dalam Al-Qur`an Surat Qaf ayat 18 mengenai pengawasan ketat terhadap setiap ucapan manusia.
"Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap." (QS. Qaf: 18)
Kelak di hari pembalasan, bukan lisan kita yang akan berbicara membela diri, melainkan jempol dan jari-jemari ini.
Al-Qur`an Surat Yasin ayat 65 menggambarkan dengan sangat jelas bagaimana organ tubuh akan bersaksi atas seluruh perbuatan kita.
"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS. Yasin: 65)
Menjaga lisan dan jari di media sosial adalah salah satu indikator utama dari kualitas keislaman seseorang yang sesungguhnya.
Rasulullah SAW memberikan jaminan keselamatan bagi setiap Muslim yang mampu mengontrol ucapan dan perbuatan dari menyakiti orang lain.
"Seorang Muslim adalah orang yang lidah dan tangannya tidak mengganggu orang lain." (HR. Bukhari)
Satu komentar jahat atau fitnah yang telanjur dibagikan bisa menjadi dosa jariah yang terus mengalir meski kita sudah wafat.
Fenomena jempol yang lebih cepat daripada akal sehat ini sering kali merusak ukhuwah dan menyebarkan kebencian di ruang publik.
Etika bermedia sosial dalam Islam menuntut kita untuk selalu melakukan tabayyun atau verifikasi sebelum menyebarkan sebuah informasi.
Kebebasan berekspresi di dunia maya tetap memiliki batasan moral yang sangat ketat yang diatur oleh syariat agama.
Sebelum menekan tombol kirim, tanyakan pada hati apakah untaian kata tersebut akan menyelamatkan atau justru menyengsarakan kita di akhirat.
Mari jadikan gawai kita sebagai ladang pahala dengan hanya memproduksi komentar yang menyejukkan dan unggahan yang sarat manfaat.