Ilustrasi foto menyalahkan orang lain
Terasmuslim.com - Sikap selalu melempar kesalahan kepada orang lain saat menghadapi kegagalan atau konflik adalah cerminan dari penyakit hati yang akut.
Manusia sering kali lebih mudah melihat sebutir debu di mata orang lain daripada melihat gajah yang berdiri di pelupuk matanya sendiri.
Islam mengajarkan umatnya untuk menghentikan kebiasaan buruk ini dan beralih fokus pada aktivitas muhasabah atau introspeksi diri.
Allah SWT mengingatkan manusia bahwa setiap kesulitan yang menimpa sejatinya adalah akibat dari perbuatan tangan mereka sendiri.
Tuntunan untuk merenungi kesalahan pribadi ini tertuang jelas dalam Al-Qur`an Surat Asy-Syura ayat 30.
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Asy-Syura: 30).
Ketika kita sibuk mencari kambing hitam atas segala masalah, kita sebenarnya sedang menutup pintu hidayah untuk memperbaiki kualitas iman.
Sahabat Umar bin Khattab RA pernah memberikan nasihat emas yang sangat populer mengenai pentingnya menghitung dosa-dosa pribadi sebelum hari pembalasan.
"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum kalian ditimbang." (At-Tirmidzi).
Menyalahkan orang lain secara terus-menerus hanya akan memupuk sifat sombong dan merasa diri paling benar di hadapan makhluk.
Rasulullah SAW juga mengingatkan dalam sebuah hadis mengenai tanda kebaikan seorang muslim yang dianugerahi hidayah oleh Allah SWT.
"Beruntunglah orang yang disibukkan dengan aibnya sendiri sehingga tidak sempat mengurusi aib orang lain." (HR. Al-Bazzar).
Dengan fokus pada muhasabah diri, seorang hamba akan tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati, pemaaf, dan berjiwa besar.
Setiap ujian kehidupan yang datang seharusnya dijadikan momentum sakral untuk bertobat, berbenah, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Menyalahkan takdir atau lingkungan tidak akan pernah menyelesaikan masalah, justru akan menambah beban kedengkian di dalam dada.
Mulai hari ini, mari kita ubah sudut pandang dengan selalu bertanya pada diri sendiri tentang apa yang perlu diperbaiki dari akhlak kita.
Jiwa yang tenang dan berkah hanya akan dimiliki oleh mereka yang konsisten membersihkan hati melalui jalur koreksi diri yang jujur.