• KEISLAMAN

Sudah Kerja Keras Tapi Rezeki Tidak Cukup, Ini Pandangan Islam

Yahya Sukamdani | Sabtu, 15/08/2026
Sudah Kerja Keras Tapi Rezeki Tidak Cukup, Ini Pandangan Islam Ilustrasi foto menikmati keberkahan hidup

Terasmuslim.com - Banyak orang telah menguras tenaga dan bekerja keras siang malam, namun merasa rezeki yang diperoleh selalu tidak cukup.

Fenomena ini sering kali menimbulkan rasa kecewa dan kebingungan mengenai makna rezeki yang sebenarnya dalam ajaran Islam.

Islam mengajarkan bahwa hakikat rezeki bukan sekadar diukur dari banyaknya nominal materi, melainkan dari segi keberkahannya.

Allah SWT telah menegaskan bahwa jaminan rezeki bagi setiap makhluk hidup berada sepenuhnya di tangan-Nya.

Hal tersebut termaktub dalam Al-Qur`an Surah Hud ayat 6: "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya."

Perasaan tidak pernah merasa cukup sering kali berakar dari rasa kurang syukur dan dahaga duniawi yang tidak ada habisnya.

Rasulullah SAW telah mengingatkan tabiat manusia ini dalam sebuah hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim.

Dalam hadits tersebut beliau bersabda: "Seandainya manusia memiliki satu lembah emas, niscaya ia akan menginginkan lembah yang kedua."

Untuk meraih rasa cukup dan ketenangan, Islam menekankan pentingnya membangun sifat qana`ah atau merasa cukup atas pemberian Allah.

Nabi Muhammad SAW juga memberikan formula agar senantiasa bersyukur melalui hadits riwayat Muslim.

Rasulullah SAW bersabda: "Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah."

Selain itu, kunci utama untuk melipatgandakan kecukupan rezeki adalah dengan memperbanyak rasa syukur serta bersedekah.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu."

Ketika kerja keras diimbangi dengan niat ibadah, takwa, dan rasa syukur, maka sekecil apa pun rezeki akan terasa menenangkan jiwa.

Dengan demikian, kecukupan sejati bukanlah tentang seberapa besar harta yang dikumpulkan, melainkan seberapa lapang hati dalam menerimanya.