• KEISLAMAN

Membedakan Ibadah dan Adat dalam Tradisi Keagamaan Indonesia

Yahya Sukamdani | Jum'at, 14/08/2026
Membedakan Ibadah dan Adat dalam Tradisi Keagamaan Indonesia Ilustrasi tradisi Idul Adha di Indonesia (Foto: AntaraFoto/Makna Zaezar)

Terasmuslim.com - Masyarakat Muslim di Indonesia memiliki kekayaan tradisi keagamaan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Dalam pandangan Islam, amat penting untuk membedakan antara amalan yang berstatus ibadah mahdlah dan kebiasaan adat (`adah).

Syariat menegaskan bahwa hukum asal dalam urusan ibadah adalah terikat (pemberhentian/tauqif) sampai adanya perintah yang jelas.

Al-Qur`an secara lugas memerintahkan umat Islam untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya sebagaimana tercantum dalam Surah An-Nisa ayat 59.

Ayat tersebut menjadi pijakan utama bahwa setiap amalan ibadah wajib memiliki landasan syariat yang bersumber dari Al-Qur`an dan Sunnah.

Dalam Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menegaskan bahwa amalan ibadah baru yang diciptakan tanpa tuntunan akan tertolak.

Sebaliknya, hukum asal dalam urusan muamalah dan adat kebiasaan adalah diperbolehkan (al-ashlu fil asy-ya`i al-ibahah).

Suatu tradisi lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip tauhid dan syariat pada dasarnya boleh tetap dilestarikan.

Syarat utama tradisi adat dapat menjadi bernilai pahala adalah jika diniatkan untuk kebaikan dan diisi dengan amalan yang disyariatkan.

Al-Qur`an dalam Surah Al-A`raf ayat 199 memerintahkan umat manusia untuk senantiasa mengedepankan sifat pemaaf dan memelihara kebaikan.

Para ulama merumuskan kaidah fiqih al-`adatu muhakkamah, yang bermakna bahwa adat istiadat dapat dijadikan sebagai pertimbangan hukum.

Contoh tradisi seperti syukuran atau sedekah bumi dapat menjadi ibadah jika diniatkan sebagai wujud syukur dan pembagian makanan kepada sesama.

Namun, jika tradisi tersebut mengandung unsur penyembahan selain Allah atau keyakinan mistis, maka hukumnya menjadi terlarang.

Oleh karena itu, pemahaman fiqih yang jernih sangat diperlukan agar umat Islam dapat melestarikan budaya tanpa mencederai akidah.

Semoga Allah SWT membimbing kita untuk senantiasa menjalankan ibadah yang murni sekaligus bijak dalam menyikapi tradisi lokal.