• KEISLAMAN

Etika Islam Mengatur Hubungan Atasan dan Bawahan

Yahya Sukamdani | Minggu, 14/06/2026
Etika Islam Mengatur Hubungan Atasan dan Bawahan Ilustrasi foto suasana kantor

Terasmuslim.com - Hubungan antara atasan dan bawahan dalam dunia kerja harus dilandasi oleh nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

Islam menolak segala bentuk eksploitasi dan kesewenang-wenangan yang dilakukan pemegang kekuasaan kepada pekerjanya.

Seorang pemimpin atau atasan memikul amanah besar untuk mengayomi bawahannya dengan penuh rasa tanggung jawab.

Allah SWT mengingatkan para pemimpin untuk selalu berlaku adil dalam segala situasi dan keputusan mereka.

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat..." (QS. An-Nahl: 90)

Ayat ini menegaskan bahwa keadilan sosial dan profesional harus tegak tanpa memandang kasta jabatan.

Di sisi lain, Rasulullah SAW memberikan teladan mulia tentang bagaimana menghargai hak-hak para pekerja secara manusiawi.

Beliau memerintahkan para majikan untuk memberikan hak finansial pekerja tepat waktu sebelum keringat mereka mengering.

"Berikanlah upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering." (HR. Ibnu Majah)

Menunda hak karyawan tanpa alasan yang sah merupakan bentuk kezaliman yang sangat dibenci dalam syariat.

Atasan yang baik juga tidak akan membebani bawahannya dengan tugas yang melebihi batas kemampuan kemanusiaan mereka.

Sebaliknya, bawahan juga wajib menunjukkan loyalitas, kejujuran, dan profesionalisme tingkat tinggi dalam menunaikan tugas.

Kepatuhan kepada atasan adalah kewajiban selama instruksi yang diberikan tidak melanggar syariat dan hukum Allah.

Sinergi yang sehat antara instruksi yang adil dan kepatuhan yang amanah akan menciptakan lingkungan kerja yang berkah.

Ketika hak dan kewajiban kedua belah pihak terpenuhi, maka operasional kerja akan bernilai ibadah yang agung.

Semoga para pemimpin dan pekerja muslim mampu mengamalkan etika ini demi meraih ridha Allah SWT.