Ilustrasi simbol sila 1 Pancasila
Terasmuslim.com - Sila pertama dalam Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, menempatkan dimensi spiritual sebagai hulu dari segala urusan kehidupan berbangsa di Indonesia.
Bagi umat Islam, rumusan sila ini bukan sekadar kalimat pajangan, melainkan refleksi mendalam dari konsep tauhid yang murni.
Tauhid mutlak merupakan harga mati dalam Islam, di mana kedudukan Allah SWT diletakkan di atas segala-galanya tanpa ada sekutu bagi-Nya.
Keselarasan spiritual ini terpancar kuat dalam Surah Al-Ikhlas ayat 1 yang berbunyi, "Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa."
Ayat yang sangat mendasar tersebut menegaskan bahwa Tuhan yang wajib disembah itu tunggal, tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan.
Lebih jauh lagi, pengakuan atas keesaan Allah ini menuntut setiap Muslim untuk menyerahkan segala bentuk peribadatan dan sandaran hidup hanya kepada-Nya.
Allah SWT juga mengingatkan manusia dalam Surah Al-Baqarah ayat 163, "Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang."
Prinsip keesaan ini kemudian melahirkan jiwa yang merdeka, sebab manusia tidak lagi diperbudak oleh makhluk atau materi duniawi lainnya.
Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW menegaskan inti ajaran dakwah beliau, "Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."
Oleh karena itu, fondasi ketuhanan ini wajib menjiwai moralitas publik, etika birokrasi, hingga hukum yang berlaku di tanah air.
Sila pertama ini juga menjadi payung bagi kebebasan beragama yang penuh kedamaian, tanpa ada paksaan dalam meyakini sebuah keimanan.
Hal tersebut sejalan dengan prinsip toleransi Islam yang agung dalam Surah Al-Baqarah ayat 256, "Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam)."
Keimanan yang kokoh kepada Tuhan Yang Maha Esa otomatis akan melahirkan rasa takut untuk berbuat zalim, korupsi, maupun merusak tatanan sosial.
Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya kesadaran ketuhanan ini dalam hadis ihsan, "Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."
Dengan demikian, menghayati sila pertama dengan jujur berarti merawat cahaya Al-Qur`an untuk terus menyinari dan membimbing arah perjalanan bangsa ini.