• KEISLAMAN

Seni Menegur Tanpa Melukai, Menjaga Martabat Bawahan Ala Rasulullah

Yahya Sukamdani | Jum'at, 08/05/2026
Seni Menegur Tanpa Melukai, Menjaga Martabat Bawahan Ala Rasulullah Ilustrasi foto pemimpin dan bawahan

Menegur bawahan yang melakukan kesalahan adalah kewajiban manajerial, namun melakukannya tanpa merendahkan martabat adalah tuntunan akhlak yang tinggi.

Terasmuslim.com - Islam mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang wajib dijaga, meskipun mereka berada dalam posisi subordinat di sebuah perusahaan.

Tujuan dari sebuah teguran seharusnya adalah perbaikan perilaku (ishlah), bukan pelampiasan amarah atau unjuk kekuasaan di depan orang banyak.

Allah SWT memerintahkan dalam Al-Qur`an Surah An-Nahl ayat 125 untuk mengajak manusia ke jalan Tuhan dengan hikmah dan pelajaran yang baik.

Penyampaian kritik dengan kata-kata yang kasar hanya akan melahirkan dendam dan menutup pintu hidayah serta kesadaran bagi sang karyawan.

Gunakanlah metode empat mata saat memberikan teguran agar aib bawahan tidak tersebar dan mentalitas mereka tidak jatuh di hadapan rekan sejawat.

Rasulullah SAW adalah teladan terbaik yang tidak pernah mencaci maki atau berbuat kasar kepada para pembantu maupun sahabat beliau.

Dalam sebuah hadis, Anas bin Malik ra. menceritakan bahwa beliau melayani Nabi selama sepuluh tahun dan tidak pernah sekalipun ditegur dengan kata "ah".

"Aku telah melayani Rasulullah SAW selama sepuluh tahun, demi Allah, beliau tidak pernah berkata kepadaku `Ah`." (HR. Muslim)

Seorang pemimpin yang Islami akan fokus pada solusi dan perbaikan sistem daripada sekadar mencari kambing hitam atas sebuah kegagalan kerja.

Awali teguran dengan apresiasi atas kinerja positif yang selama ini telah diberikan, agar kritik yang masuk terasa lebih objektif dan membangun.

Islam sangat menjunjung tinggi kelembutan dalam berkomunikasi, sebagaimana Allah memerintahkan Nabi Musa untuk bicara lembut kepada Firaun sekalipun.

Allah berfirman dalam Surah Ali `Imran ayat 159 bahwa sekiranya pemimpin bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya bawahan akan menjauh.

Memberikan ruang bagi bawahan untuk menjelaskan duduk perkara (tabayyun) adalah bentuk keadilan yang akan mencegah lahirnya keputusan yang sepihak.

Ingatlah bahwa kepemimpinan adalah amanah yang akan dihisab, dan cara kita memperlakukan orang lain mencerminkan kualitas iman kita yang sesungguhnya.

Jadikan setiap sesi evaluasi sebagai momentum untuk saling menguatkan ukhuwah demi mencapai visi perusahaan yang penuh keberkahan.