Ilustrasi takziah
Terasmuslim.com - Fenomena keluarga jenazah yang sibuk memasak demi menjamu tamu merupakan sebuah kekeliruan tradisi yang telah lama mengakar di masyarakat kita. Seharusnya, beban kesedihan mereka diringankan oleh para pelayat, bukan justru ditambah dengan urusan dapur dan biaya yang besar. Kondisi ini sering kali memaksa keluarga yang sedang berduka untuk berutang demi menjaga gengsi di mata para tamu.
Rasulullah SAW secara tegas telah memberikan tuntunan saat sahabat beliau, Ja`far bin Abi Thalib, wafat di medan perang. Beliau memerintahkan para sahabat lainnya untuk membuatkan makanan bagi keluarga Ja`far karena mereka sedang ditimpa kesedihan yang mendalam. Hadis ini menjadi dalil kuat bahwa memberi makan adalah tugas tetangga atau tamu, bukan kewajiban bagi mereka yang tertimpa musibah.
Memberatkan keluarga mayit dengan ekspektasi jamuan mewah, apalagi ditambah dengan cibiran mengenai rasa makanan, adalah perbuatan yang menjauhi akhlak Islami. Islam mengajarkan empati yang tulus, di mana takziah bertujuan untuk menghibur hati dan mendoakan almarhum agar mendapatkan tempat terbaik. Sangat ironis jika momen duka berubah menjadi beban finansial yang meninggalkan utang berkepanjangan bagi ahli waris yang ditinggalkan.
Terkait tradisi amplop saat shalat jenazah atau biaya acara hari-hari tertentu, hal ini perlu ditinjau kembali agar tidak menjadi beban syariat yang semu. Jika biaya tersebut diambil dari harta warisan padahal ada ahli waris yang masih kecil atau yatim, maka tindakan itu berisiko memakan harta anak yatim. Allah SWT mengingatkan dalam Surah An-Nisa ayat 10 mengenai ancaman keras bagi mereka yang memakan harta anak yatim secara zalim.
Syariat Islam mengedepankan kemudahan dan keadilan, terutama dalam menghadapi situasi musibah yang menguras emosi dan tenaga. Kita perlu mengedukasi umat agar berani memutus rantai tradisi yang justru bertentangan dengan kemurnian sunnah Nabi Muhammad SAW. Membantu memberikan donasi atau bahan pangan tanpa menuntut imbalan jamuan adalah bentuk birrul walidain dan solidaritas sosial yang sesungguhnya.
Marilah kita ubah pola pikir takziah dari sekadar berkunjung untuk makan menjadi aksi nyata dalam membantu meringankan beban saudara kita. Jangan sampai niat baik untuk menghibur justru berubah menjadi petaka finansial bagi keluarga mayit yang seharusnya kita lindungi. Semoga kesadaran kolektif ini membawa kita kembali pada praktik agama yang murni, penuh kasih sayang, dan menenangkan jiwa.