Ilustrasi - jenazah yang sudah dimandikan (Foto: Adobe Stock)
Terasmuslim.com - Wafatnya Sayyidah Fatimah az-Zahra meninggalkan lubang kesedihan yang sangat dalam di hati sang suami, Ali bin Abi Thalib RA. Hanya berselang enam bulan setelah kepergian Rasulullah SAW, Ali harus kembali menghadapi ujian kehilangan belahan jiwanya yang paling mulia. Perpisahan ini bukan sekadar hilangnya pendamping hidup, melainkan terputusnya kenangan fisik terakhir terhadap sosok Baginda Nabi Muhammad SAW.
Kesedihan Ali tergambar dalam bait-bait syair yang menyayat hati saat beliau berdiri di pusara sang istri tercinta. Beliau merasakan bahwa dunia seketika menjadi hampa dan penuh dengan duka yang tidak akan pernah menemui ujungnya. Namun, di tengah air mata yang mengalir, keteguhan iman tetap menjadi kompas utama bagi sang pahlawan Islam tersebut.
Dalam perspektif Al-Qur`an Surah Al-Baqarah ayat 156, Ali senantiasa menguatkan hatinya dengan kalimat istirja sebagai bentuk kepasrahan total. Beliau memahami bahwa segala sesuatu yang bernyawa pasti akan kembali kepada Sang Khalik, meskipun hati merasa sangat perih. Keyakinan akan adanya pertemuan abadi di surga kelak menjadi satu-satunya pelipur lara di tengah kesunyian malam di Madinah.
Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Fatimah adalah bagian dari dirinya, sehingga menyakiti Fatimah berarti juga menyakiti perasaan Nabi. Ali menjaga amanah cinta ini dengan kesetiaan yang luar biasa hingga detik terakhir nyawa sang putri menyentuh garis takdir. Kehilangan ini membuat Ali merasa seolah kekuatan fisiknya melemah, meski beliau dikenal sebagai singa Allah yang tak kenal takut.
Duka ini juga menjadi ujian bagi kesabaran Ali dalam menjalankan wasiat terakhir Fatimah untuk menjaga kesucian dan privasi pemakamannya. Beliau memakamkan sang istri di kegelapan malam demi menghormati keinginan Fatimah yang ingin terjaga auratnya bahkan setelah wafat. Tindakan ini mencerminkan adab tinggi dan perlindungan seorang suami yang sangat mencintai kehormatan keluarganya di hadapan manusia.
Meskipun dirundung kesedihan, Ali tidak pernah meninggalkan kewajibannya dalam beribadah dan mengurus kepentingan umat Islam saat itu. Beliau membuktikan bahwa duka yang mendalam tidak boleh menghalangi seorang mukmin untuk tetap istikamah di jalan dakwah. Pelajaran penting dari kisah ini adalah bahwa menangis karena kehilangan hukumnya boleh, asalkan tidak diikuti dengan ratapan yang melampaui batas syariat.
Kisah cinta Ali dan Fatimah tetap abadi sebagai standar tertinggi dalam membangun rumah tangga yang berlandaskan kasih sayang karena Allah. Kesedihan Ali adalah bukti kemanusiaan yang agung, namun ketegarannya adalah bukti keimanan yang sangat kokoh dan tak tergoyahkan. Semoga kita dapat meneladani ketulusan cinta dan kekuatan sabar yang ditunjukkan oleh sang pintu gerbang ilmu, Ali bin Abi Thalib.