Ilustrasi foto suasana hari raya Idul Fitri
Terasmuslim.com - Hari raya Idul Fitri merupakan momentum kebahagiaan bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Pada hari yang penuh kemenangan ini, umat Islam saling bersilaturahmi, memaafkan, serta menyampaikan ucapan selamat. Namun sering muncul pertanyaan, bagaimana sebenarnya ucapan Idul Fitri yang sesuai dengan tuntunan syariat dan dicontohkan oleh generasi awal umat Islam.
Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa para sahabat Nabi ﷺ memiliki kebiasaan saling mengucapkan doa ketika bertemu pada hari Idul Fitri. Ucapan yang masyhur di kalangan mereka adalah “Taqabbalallahu minna wa minkum” yang artinya “Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian.” Riwayat ini disebutkan oleh para ulama di antaranya dalam kitab karya Fath al-Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani, yang menjelaskan bahwa para sahabat saling mengucapkan doa tersebut ketika hari raya.
Makna dari ucapan tersebut sangat dalam. Ia bukan sekadar ucapan selamat secara sosial, tetapi juga doa agar seluruh amal ibadah selama Ramadhan seperti puasa, shalat tarawih, sedekah, dan berbagai kebaikan diterima oleh Allah SWT. Spirit inilah yang sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 185 yang menjelaskan bahwa Ramadhan bertujuan agar manusia mencapai ketakwaan kepada-Nya.
Selain ucapan tersebut, para ulama juga menjelaskan bahwa tidak ada lafaz khusus yang diwajibkan dalam mengucapkan selamat Idul Fitri. Selama ucapan tersebut mengandung doa dan kebaikan, maka hal itu diperbolehkan. Meski demikian, ucapan yang berasal dari tradisi para sahabat tentu lebih utama karena lebih dekat dengan praktik generasi terbaik umat Islam.
Oleh karena itu, ketika umat Islam merayakan Idul Fitri, alangkah indahnya jika ucapan yang disampaikan tidak sekadar formalitas. Ucapan tersebut hendaknya mengandung doa, harapan, dan nilai ibadah. Kalimat sederhana seperti “Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum” dapat menjadi pengingat bahwa hari raya bukan sekadar perayaan, tetapi juga momen spiritual atas diterimanya amal.
Pada akhirnya, esensi Idul Fitri adalah kembali kepada kesucian dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Dengan mengikuti tradisi para sahabat dalam mengucapkan doa pada hari raya, umat Islam tidak hanya menjaga adab silaturahmi, tetapi juga menghidupkan sunnah generasi salaf yang penuh keberkahan. Idul Fitri pun menjadi lebih bermakna, bukan hanya sebagai hari kemenangan, tetapi juga sebagai hari saling mendoakan dalam kebaikan.