• KEISLAMAN

Apakah Ibadah Tanpa Contoh dari Rasulullah SAW Menjadi Sia-Sia?

Yahya Sukamdani | Senin, 09/03/2026
Apakah Ibadah Tanpa Contoh dari Rasulullah SAW Menjadi Sia-Sia? Ilustrasi Al Quran menjadi pegangan Nabi Muhammad menjadi Rasul umat Islam (Cordoba)

Terasmuslim.com - Dalam ajaran Islam, ibadah bukan sekadar niat baik atau semangat beramal, tetapi harus dilakukan sesuai tuntunan syariat yang dibawa Rasulullah SAW. Para ulama menegaskan bahwa setiap ibadah yang dilakukan oleh seorang Muslim harus memiliki landasan dari Al-Qur’an dan Sunnah. Tanpa dasar tersebut, ibadah dikhawatirkan tidak diterima oleh Allah SWT. Oleh karena itu, memahami bagaimana Rasulullah SAW mencontohkan ibadah menjadi hal yang sangat penting bagi setiap Muslim.

Al-Qur’an menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah teladan terbaik bagi umat Islam. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 21, “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah SAW itu suri teladan yang baik bagimu…”. Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh bentuk ibadah seharusnya mengikuti apa yang diajarkan dan dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan mengikuti sunnah beliau, seorang Muslim berada di jalan yang benar dalam beribadah kepada Allah.

Rasulullah SAW juga memperingatkan umatnya agar tidak membuat-buat amalan baru dalam agama. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Nabi SAW bersabda, “Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka amalan itu tertolak.” Hadist ini menjadi dasar kuat bahwa ibadah yang tidak memiliki contoh dari Rasulullah SAW berpotensi tidak diterima di sisi Allah SWT.

Para ulama menyebut perbuatan membuat ibadah baru yang tidak memiliki dasar dari syariat sebagai bid’ah dalam urusan ibadah. Imam Malik rahimahullah pernah mengatakan bahwa siapa pun yang menganggap suatu bid’ah sebagai sesuatu yang baik dalam agama, maka seakan-akan ia menuduh Rasulullah SAW belum menyampaikan risalah dengan sempurna. Padahal Allah telah menegaskan dalam QS. Al-Ma’idah ayat 3 bahwa agama Islam telah disempurnakan.

Namun demikian, para ulama juga menjelaskan bahwa perkara baru dalam kehidupan dunia seperti teknologi, metode pendidikan, atau sarana dakwah tidak termasuk bid’ah tercela selama tidak mengubah inti ibadah. Yang menjadi masalah adalah jika bentuk ibadah itu sendiri diubah, ditambah, atau dibuat tanpa dasar dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Karena itu, setiap Muslim hendaknya berhati-hati dalam beramal. Niat yang baik saja tidak cukup jika tidak disertai tuntunan yang benar. Ibadah yang paling dicintai Allah adalah yang paling ikhlas dan paling sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Dengan mengikuti ajaran Nabi SAW secara benar, seorang Muslim dapat berharap amalnya diterima dan tidak menjadi amalan yang sia-sia di akhirat kelak.