Ilustrasi foto ilmuwan kedokteran
Terasmuslim.com - Nama Ibn al-Nafis tercatat sebagai salah satu dokter terbesar dalam sejarah peradaban Islam. Lahir di Damaskus pada abad ke-13, ia tumbuh dalam lingkungan ilmiah yang kuat di bawah tradisi keilmuan dunia Islam. Ia dikenal sebagai ahli kedokteran, ahli fikih mazhab Syafi’i, dan penulis produktif. Dalam dunia medis, ia masyhur karena penemuannya tentang sirkulasi darah paru-paru temuan yang mendahului ilmuwan Eropa berabad-abad. Semangat keilmuannya sejalan dengan firman Allah SWT: “Dan katakanlah: Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha: 114).
Ibn al-Nafis menempuh pendidikan kedokteran di Damaskus sebelum akhirnya menetap di Kairo, pusat intelektual dunia Islam kala itu. Di sana ia menjadi kepala dokter di rumah sakit Al-Manshuri. Karyanya yang monumental, Syarh Tasyrih al-Qanun, merupakan kritik ilmiah terhadap teori Galen tentang peredaran darah. Ia menolak pandangan bahwa darah menembus sekat jantung dan menjelaskan bahwa darah mengalir dari bilik kanan ke paru-paru untuk bercampur udara, lalu kembali ke bilik kiri sebuah konsep yang kini dikenal sebagai sirkulasi pulmonal.
Penemuan tersebut menunjukkan keberanian ilmiah yang luar biasa. Di saat banyak ilmuwan hanya mengikuti otoritas klasik, Ibn al-Nafis memilih pendekatan observasi dan analisis rasional. Sikap ini mencerminkan perintah Al-Qur’an untuk menggunakan akal dan merenungi ciptaan Allah. Dalam QS. Al-Mu’minun: 78, Allah berfirman bahwa manusia diberi pendengaran, penglihatan, dan hati agar bersyukur yang oleh para ulama ditafsirkan sebagai dorongan untuk berpikir dan meneliti. Ilmu kedokteran yang ia kembangkan bukan sekadar teori, tetapi bentuk syukur atas nikmat akal.
Selain sebagai dokter, Ibn al-Nafis juga seorang ulama dan penulis dalam bidang teologi serta filsafat. Ia menunjukkan bahwa dalam tradisi Islam, tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia. Rasulullah SAW bersabda, “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim), yang menjadi landasan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan adalah bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Ibn al-Nafis mempraktikkan hadis ini dengan menjadikan profesinya sebagai ladang pengabdian kepada umat.
Menariknya, kontribusi besar Ibn al-Nafis baru diakui dunia Barat berabad-abad kemudian, setelah manuskripnya ditemukan kembali. Sebelumnya, teori sirkulasi darah sering dikaitkan dengan William Harvey, padahal Ibn al-Nafis telah menjelaskannya jauh lebih awal. Fakta ini menjadi bukti bahwa peradaban Islam pernah memimpin dalam riset ilmiah berbasis observasi dan eksperimentasi.
Kisah Ibn al-Nafis adalah pengingat bahwa kejayaan umat Islam lahir dari perpaduan iman dan ilmu. Ia membuktikan bahwa memahami anatomi tubuh manusia adalah bagian dari membaca ayat-ayat kauniyah Allah. Dalam QS. Fussilat: 53, Allah menjanjikan akan memperlihatkan tanda-tanda-Nya di segenap penjuru dan pada diri manusia sendiri. Melalui dedikasinya di bidang kedokteran, Ibn al-Nafis telah menyingkap sebagian tanda itu menjadikan namanya abadi sebagai pelopor sains yang berakar pada tauhid dan kecintaan pada ilmu.