• KISAH

Abbas Ibn Firnas, Ilmuwan Muslim Andalusia Pelopor Penerbangan Dunia

Yahya Sukamdani | Kamis, 26/02/2026
Abbas Ibn Firnas, Ilmuwan Muslim Andalusia Pelopor Penerbangan Dunia Ilustrasi foto eksperimen ilmuwan

Terasmuslim.com - Nama Abbas Ibn Firnas mungkin belum sepopuler ilmuwan Barat dalam buku-buku sains modern, namun dalam sejarah peradaban Islam, beliau adalah simbol keberanian berpikir dan ketekunan meneliti. Lahir pada abad ke-9 di wilayah Andalusia (Spanyol Muslim), ia dikenal sebagai ilmuwan serba bisa: ahli astronomi, kimia, teknik, musik, hingga perintis teknologi penerbangan. Di tengah kejayaan peradaban Islam di Cordoba, Abbas Ibn Firnas tumbuh dalam atmosfer keilmuan yang subur, didorong oleh semangat ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, “Iqra”  bacalah (QS. Al-‘Alaq: 1). Spirit inilah yang menjadi fondasi kemajuan sains Islam.

Abbas Ibn Firnas hidup pada masa Kekhalifahan Umayyah di Andalusia, ketika ilmu pengetahuan berkembang pesat. Ia tidak hanya dikenal sebagai teoretikus, tetapi juga praktisi yang berani bereksperimen. Salah satu pencapaiannya adalah upaya menciptakan alat terbang. Terinspirasi dari pengamatan terhadap burung, ia merancang sayap dari kayu dan kain sutra, lalu melakukan percobaan terbang dari tempat tinggi. Walaupun percobaan itu berakhir dengan cedera, catatan sejarah menyebut ia berhasil melayang beberapa saat di udara sebuah pencapaian luar biasa jauh sebelum era penerbangan modern.

Dalam perspektif Islam, keberanian Abbas Ibn Firnas bukanlah tindakan sia-sia. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190). Ayat ini menjadi landasan teologis bahwa meneliti alam adalah bagian dari tadabbur dan ibadah intelektual. Eksperimen terbang yang ia lakukan sejatinya adalah bentuk perenungan terhadap sunnatullah pada ciptaan-Nya, sebagaimana burung yang terbang dengan izin Allah (QS. Al-Mulk: 19).

Selain eksperimen penerbangan, Abbas Ibn Firnas juga berjasa dalam pengembangan industri kaca dari batu kuarsa di Andalusia. Ia merancang alat peraga astronomi yang menyerupai planetarium sederhana untuk menggambarkan pergerakan bintang dan cuaca. Semangatnya mencerminkan sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Dalam konteks ini, pencarian ilmu bukan hanya ilmu agama, tetapi juga ilmu yang membawa kemaslahatan bagi umat.

Kisah hidupnya juga mengajarkan pentingnya evaluasi dan pembelajaran dari kegagalan. Setelah mengalami kecelakaan dalam percobaan terbangnya, Abbas Ibn Firnas menyadari bahwa ia belum merancang bagian ekor sebagai penyeimbang pendaratan. Kesadaran ini menunjukkan sikap ilmiah yang jujur dan reflektif. Islam sendiri mendorong umatnya untuk tidak berputus asa dan terus memperbaiki diri, sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zumar: 53 tentang larangan berputus asa dari rahmat-Nya.

Warisan Abbas Ibn Firnas menjadi bukti bahwa peradaban Islam pernah memimpin dunia dalam sains dan inovasi. Namanya kini diabadikan sebagai simbol kebangkitan intelektual Muslim. Bagi umat Islam hari ini, kisahnya adalah pengingat bahwa iman dan ilmu bukanlah dua hal yang terpisah. Ketika tauhid mengakar kuat dan akal digunakan untuk kemaslahatan, lahirlah generasi seperti Abbas Ibn Firnas ilmuwan yang menjadikan langit bukan sekadar batas, melainkan tantangan untuk diteliti dengan penuh keimanan.