Ilustrasi foto ibadah di bulan Ramadhan
Terasmuslim.com - Di tengah masyarakat Muslim, sering terdengar ungkapan bahwa Ramadhan terbagi menjadi tiga bagian: sepuluh hari pertama rahmat, sepuluh hari kedua ampunan, dan sepuluh hari terakhir pembebasan dari neraka. Ungkapan ini begitu populer dalam ceramah dan pesan berantai. Namun pertanyaannya, apakah pembagian tersebut benar-benar diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW?
Riwayat yang sering dijadikan dasar adalah hadis yang menyebutkan, “Awalnya rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari neraka.” Namun para ulama ahli hadis menilai riwayat ini lemah (dha’if). Hadis tersebut tidak terdapat dalam kitab-kitab hadis shahih seperti Shahih Bukhari maupun Shahih Muslim. Karena itu, tidak ada dalil shahih yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW secara khusus membagi Ramadhan menjadi tiga fase dengan keutamaan yang berbeda-beda.
Secara prinsip, seluruh bulan Ramadhan adalah rahmat, ampunan, dan pembebasan dari neraka. Dalam hadis shahih riwayat Shahih Bukhari, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Ini menunjukkan ampunan tidak terbatas pada sepuluh hari tertentu saja.
Demikian pula pada sepuluh malam terakhir, terdapat keutamaan besar seperti Lailatul Qadar yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3). Namun ini bukan berarti dua puluh hari sebelumnya tidak memiliki rahmat atau ampunan. Seluruh Ramadhan adalah musim kebaikan yang penuh keberkahan dari awal hingga akhir.
Maka, pembagian Ramadhan menjadi tiga fase bukanlah ajaran yang bersumber dari hadis shahih. Meski maknanya secara umum benar bahwa Ramadhan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari neraka namun menisbatkannya sebagai sabda Rasulullah SAW perlu kehati-hatian. Dalam agama, kebenaran dalil adalah fondasi utama.
Sikap terbaik adalah memaksimalkan seluruh hari Ramadhan tanpa membatasi diri pada fase tertentu. Jangan menunggu sepuluh hari terakhir untuk bersungguh-sungguh, dan jangan merasa cukup hanya di awal bulan. Ramadhan adalah kesempatan emas sepanjang tiga puluh hari untuk meraih takwa, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183.