Terasmuslim.com - Bulan Ramadhan identik dengan kurma sebagai hidangan pembuka puasa. Tradisi ini bukan sekadar budaya Timur Tengah, tetapi bersumber dari tuntunan Nabi Muhammad SAW. Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah berbuka dengan kurma segar (ruthab), dan jika tidak ada maka dengan kurma kering (tamr), serta jika tidak ada maka dengan air. Sunnah ini mengandung hikmah besar: kesederhanaan, keberkahan, dan manfaat kesehatan yang nyata.
Al-Qur’an pun menyebut kurma sebagai buah yang istimewa. Dalam Surah Maryam ayat 25, Allah SWT memerintahkan Maryam untuk menggoyangkan pangkal pohon kurma agar buahnya jatuh dan dimakan saat beliau dalam keadaan lemah setelah melahirkan. Isyarat ini menunjukkan bahwa kurma memiliki kandungan gizi tinggi yang mampu memulihkan tenaga. Maka tak heran, di bulan Ramadhan, kurma menjadi menu utama yang dianjurkan untuk mengawali berbuka puasa.
Salah satu jenis kurma yang paling dikenal adalah Kurma Ajwa. Berasal dari Madinah, kurma ini disebut dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim: “Barang siapa yang mengonsumsi tujuh butir kurma ajwa pada pagi hari, maka tidak akan membahayakannya racun dan sihir pada hari itu.” Keutamaan ini menjadikan Ajwa sangat diminati kaum muslimin, terutama di bulan Ramadhan. Teksturnya lembut, rasanya tidak terlalu manis, dan dipercaya memiliki manfaat kesehatan yang besar.
Selain Ajwa, terdapat pula Kurma Medjool, yang dikenal berukuran besar dan berdaging tebal dengan rasa manis legit. Kurma ini sering dijuluki “raja kurma” karena kualitas dan ukurannya. Ada juga Kurma Deglet Noor yang berasal dari Afrika Utara, berwarna lebih terang dengan rasa manis ringan. Masing-masing jenis memiliki karakteristik berbeda, namun semuanya tetap menjadi pilihan baik untuk berbuka puasa.
Dari sisi kesehatan, kurma kaya akan serat, gula alami, kalium, dan antioksidan. Setelah seharian berpuasa, tubuh memerlukan asupan yang cepat mengembalikan energi tanpa membebani pencernaan. Sunnah Nabi berbuka dengan kurma selaras dengan prinsip medis modern: gula alami pada kurma cepat diserap tubuh, membantu menstabilkan kadar gula darah secara bertahap. Inilah bukti bahwa ajaran Islam selalu selaras dengan fitrah dan kebutuhan manusia.
Mengenal jenis-jenis kurma bukan sekadar soal rasa, tetapi juga tentang menghidupkan sunnah dan meraih keberkahan. Ramadhan mengajarkan umat Islam untuk kembali pada pola hidup sederhana namun bernilai ibadah. Dengan mengawali berbuka menggunakan kurma, kita tidak hanya meneladani Rasulullah SAW, tetapi juga merawat kesehatan tubuh. Di balik sebutir kurma, tersimpan hikmah syariat, manfaat gizi, dan keberkahan yang menyertai setiap langkah menuju takwa.