• KEISLAMAN

Syiah, Wiwitan, dan Filsafat, Adakah Hubungannya dengan Islam?

Yahya Sukamdani | Minggu, 15/02/2026
Syiah, Wiwitan, dan Filsafat, Adakah Hubungannya dengan Islam? Ilustrasi foto syiah, wiwitan dan filsuf

Terasmuslim.com - Islam sebagai agama yang sempurna bersumber dari wahyu Allah Ta’ala dalam Al-Qur`an dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Allah berfirman, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu…” (QS. Al-Ma’idah: 3). Ayat ini menjadi fondasi bahwa ajaran Islam telah lengkap dan tidak memerlukan tambahan ajaran baru di luar tuntunan wahyu. Dalam konteks ini, penting membedakan mana yang bagian dari Islam dan mana yang berada di luar atau memiliki perbedaan prinsipil.

Syiah secara historis muncul sebagai kelompok politik dan teologis setelah wafatnya Rasulullah SAW, terkait persoalan kepemimpinan umat. Dalam perkembangannya, Syiah memiliki berbagai cabang dan perbedaan doktrin dengan mayoritas Ahlus Sunnah, terutama dalam persoalan imamah dan sebagian riwayat hadits. Meski demikian, sebagian ulama memandang Syiah sebagai bagian dari spektrum internal umat Islam dengan perbedaan akidah tertentu, sementara yang lain menilai beberapa ajarannya menyimpang dari prinsip dasar. Diskursus ini bersifat ilmiah dan perlu dikaji dengan adab serta kehati-hatian.

Adapun Wiwitan adalah kepercayaan tradisional masyarakat Jawa yang berakar pada adat dan spiritualitas lokal sebelum datangnya Islam. Secara akidah, Wiwitan bukan bagian dari ajaran Islam, karena Islam menegaskan tauhid murni “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun” (QS. An-Nisa: 36). Namun dalam realitas sosial, sebagian tradisi budaya bisa berakulturasi dengan Islam selama tidak bertentangan dengan prinsip tauhid dan syariat.

Sementara itu, filsafat dalam sejarah Islam memiliki posisi yang lebih kompleks. Filsafat bukan agama, melainkan metode berpikir rasional. Dalam peradaban Islam klasik, muncul tokoh-tokoh seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina yang mengembangkan filsafat dalam bingkai pemikiran Islam. Namun para ulama juga mengingatkan agar akal tidak mendahului wahyu. Rasulullah SAW bersabda bahwa umatnya akan terpecah menjadi beberapa golongan, sehingga standar kebenaran tetaplah Al-Qur’an dan sunnah.

Dengan demikian, Syiah adalah aliran dalam sejarah internal umat Islam dengan perbedaan teologis tertentu, Wiwitan adalah kepercayaan lokal di luar Islam, sedangkan filsafat adalah pendekatan berpikir yang bisa digunakan selama tidak menyelisihi wahyu. Islam sebagai agama tetap berdiri di atas fondasi tauhid dan sunnah Nabi SAW, sementara berbagai pemikiran dan tradisi harus diukur dengan neraca Al-Qur’an dan hadits.

Sikap seorang Muslim dalam menghadapi perbedaan adalah kembali kepada dalil, menjaga ukhuwah, dan mengedepankan ilmu. Allah memerintahkan agar jika terjadi perselisihan, dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya (QS. An-Nisa: 59). Dengan prinsip ini, umat dapat bersikap tegas dalam akidah, namun tetap bijak dan beradab dalam menyikapi keragaman pemikiran dan tradisi yang ada.