Terasmuslim.com - Bulan Ramadhan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi madrasah ruhani yang membentuk ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur`an: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Ramadhan adalah lahirnya pribadi yang bertakwa, dan teladan terbaik dalam meraihnya adalah Rasulullah SAW.
Dalam praktiknya, Nabi Muhammad SAW mengisi Ramadhan dengan memperbanyak ibadah, khususnya qiyamul lail. Beliau bersabda, “Barang siapa menegakkan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim). Shalat malam, baik tarawih maupun tahajud, menjadi ruh Ramadhan yang menghidupkan hati di tengah keheningan malam.
Selain shalat malam, Rasulullah SAW juga memperbanyak tilawah Al-Qur’an. Dalam riwayat disebutkan bahwa Malaikat Jibril ‘alaihissalam menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan untuk murajaah Al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185. Tilawah, tadabbur, dan mengamalkan isi Al-Qur’an menjadi agenda utama seorang Muslim selama bulan suci ini.
Rasulullah SAW juga dikenal sebagai pribadi yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin bertambah di bulan Ramadhan. Sedekah, memberi makan orang berbuka, serta membantu kaum dhuafa menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Ramadhan bukan hanya ibadah vertikal kepada Allah, tetapi juga momentum memperkuat kepedulian sosial dan ukhuwah Islamiyah.
Di sepuluh malam terakhir, Rasulullah SAW semakin meningkatkan ibadahnya. Beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya. I’tikaf di masjid menjadi sunnah yang rutin beliau lakukan untuk meraih Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ini mengajarkan bahwa puncak kesungguhan seorang mukmin justru berada di penghujung Ramadhan.
Mengisi Ramadhan sesuai tuntunan Rasulullah SAW berarti menyeimbangkan puasa lahir dan batin: menjaga lisan, memperbanyak dzikir, memperkuat shalat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan memperbaiki akhlak. Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi kesempatan emas untuk kembali kepada Allah dengan hati yang bersih, mengikuti jejak Nabi SAW agar keluar sebagai pribadi yang lebih bertakwa dan diridhai-Nya.































