Ilustrasi foto gelisah belum shalat
Terasmuslim.com - Dalam Islam, bekerja dan mencari rezeki adalah bagian dari ibadah jika diniatkan karena Allah SWT. Namun, kesalahan besar terjadi ketika pekerjaan justru menjadi alasan meninggalkan shalat, melalaikan kewajiban agama, atau mengorbankan waktu ibadah. Allah SWT menegaskan tujuan utama penciptaan manusia, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini menempatkan ibadah sebagai poros utama kehidupan, termasuk dalam aktivitas duniawi.
Rezeki sejatinya adalah sarana untuk menguatkan ketaatan, bukan tujuan yang berdiri sendiri. Allah SWT berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia” (QS. Al-Qashash: 77). Ayat ini menegaskan keseimbangan, bahwa dunia dicari untuk mendukung akhirat, bukan sebaliknya.
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahaya kesibukan dunia yang melalaikan ibadah. Beliau bersabda, “Amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Hadits ini menjadi peringatan keras bahwa sehebat apa pun pencapaian dunia, semuanya akan runtuh nilainya jika kewajiban shalat ditinggalkan.
Seorang Muslim yang benar menjadikan pekerjaannya sebagai wasilah ketaatan, bukan penghalang ibadah. Ketika Allah SWT melapangkan rezeki, itu adalah amanah untuk memperbanyak syukur dan ibadah. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya dunia itu terlaknat, kecuali zikir kepada Allah dan apa yang mengikutinya” (HR. Tirmidzi). Maka bekerja yang dibingkai dengan niat ibadah akan bernilai akhirat, sementara rezeki yang menjauhkan dari Allah hanya akan menjadi penyesalan.