Ilustrasi ketenaran dan timbangan amal
Terasmuslim.com - Popularitas pada hakikatnya bukanlah tujuan hidup seorang Muslim. Ketika ketenaran dijadikan tujuan utama, seseorang bisa terjerumus pada perbuatan haram, kezhaliman, bahkan mengorbankan nilai-nilai agama demi pengakuan manusia. Allah SWT mengingatkan, “Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan balasan di dunia, namun di akhirat ia tidak memperoleh apa-apa” (QS. Hud: 15–16).
Rasulullah SAW secara tegas memperingatkan bahaya ambisi terhadap ketenaran dan kedudukan. Beliau bersabda, “Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepas di tengah kawanan kambing lebih merusak dibandingkan ambisi seseorang terhadap harta dan popularitas bagi agamanya” (HR. Tirmidzi). Hadits ini menunjukkan bahwa kerakusan terhadap ketokohan dapat menghancurkan iman dan akhlak.
Islam juga menekankan bahwa setiap perbuatan, sekecil apa pun, akan dimintai pertanggungjawaban. Allah SWT berfirman, “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al-Hijr: 92–93). Popularitas yang diraih dengan kebatilan tidak akan bernilai di sisi Allah, bahkan menjadi sebab hisab yang berat di akhirat.
Namun, apabila Allah SWT memberikan popularitas kepada seseorang, maka itu adalah amanah, bukan kebanggaan. Popularitas seharusnya digunakan untuk menyebarkan kebaikan, menegakkan kebenaran, dan mengajak manusia kepada ketakwaan. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad). Ketokohan yang dibimbing iman akan menjadi cahaya, sementara popularitas tanpa takwa hanya akan menjadi petaka.