Ilustrasi foto ustadz dan kemewahan
Terasmuslim.com - Ustadz atau da’i adalah pewaris para nabi yang tugas utamanya menyampaikan ilmu dan membimbing umat menuju ketaatan kepada Allah SWT. Karena itu, menjadikan ustadz sebagai simbol kemewahan dapat menggeser makna dakwah yang sebenarnya. Allah SWT berfirman: “Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun melainkan untuk ditaati dengan izin Allah” (QS. An-Nisa: 64). Ayat ini menunjukkan bahwa kedudukan seorang penyampai risalah terletak pada ketaatan kepada Allah, bukan pada tampilan duniawi.
Rasulullah SAW sendiri hidup dalam kesederhanaan meskipun memiliki kedudukan tertinggi di sisi Allah. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa Rasulullah SAW sering tidak menyalakan api di rumahnya selama beberapa hari karena tidak ada makanan (HR. Bukhari dan Muslim). Kesederhanaan Nabi menjadi teladan bahwa kemuliaan seorang ustadz tidak diukur dari harta atau kemewahan.
Islam tidak mengharamkan kekayaan, namun melarang menjadikan dunia sebagai tujuan utama dakwah. Allah SWT berfirman: “Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. Al-Hadid: 20). Ketika ustadz diposisikan sebagai simbol kemewahan, dikhawatirkan dakwah berubah arah dari ibadah menjadi tontonan dan standar keberhasilan diukur dengan materi.
Rasulullah SAW juga memperingatkan tentang bahaya mencintai dunia secara berlebihan. Beliau bersabda: “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu” (HR. Ibnu Majah). Hadits ini mengajarkan bahwa semakin sederhana seorang pendakwah, semakin besar peluang dakwahnya menyentuh hati umat.
Menampilkan ustadz sebagai simbol kemewahan juga berpotensi melukai perasaan umat yang hidup dalam keterbatasan. Padahal Allah SWT memerintahkan agar dakwah mendekatkan, bukan menjauhkan. Firman-Nya: “Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya (dengan cara yang benar)” (QS. Ad-Dhuha: 11). Nikmat disyukuri dengan kerendahan hati, bukan dengan berlebihan dalam menampakkan kemewahan.
Oleh karena itu, umat dan para ustadz perlu bersama-sama menjaga marwah dakwah. Ustadz hendaknya tampil wajar dan bersahaja, sementara umat tidak berlebihan mengkultuskan gaya hidup mereka. Dengan demikian, dakwah tetap menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan ajang pamer kemewahan atau popularitas.