Al Qur`an menjadi pegangan Nabi Muhammad menjadi Rasul umat Islam (Cordoba)
Terasmuslim.com - Di sebagian masyarakat muslim, terdapat amalan yang cukup populer saat malam Nisfu Sya’ban, yaitu membaca surat Yasin sebanyak tiga kali dengan niat tertentu, seperti memohon panjang umur, kelapangan rezeki, dan keteguhan iman. Tradisi ini dilakukan secara berjamaah maupun sendiri, namun perlu dikaji: apakah amalan tersebut memiliki landasan dalil yang sahih dari Rasulullah SAW?
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memerintahkan agar kaum beriman mengikuti jalan yang lurus dan tidak menambah-nambah perkara agama. Allah berfirman:
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”
(QS. Al-Jatsiyah: 18).
Ayat ini menegaskan bahwa ibadah harus dibangun di atas tuntunan syariat, bukan kebiasaan yang tidak memiliki dasar.
Terkait keutamaan malam Nisfu Sya’ban, memang terdapat beberapa hadis yang menjelaskan bahwa Allah memberikan ampunan pada malam tersebut, di antaranya:
“Allah melihat kepada seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni semua hamba-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”
(HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh sebagian ulama).
Namun, hadis ini tidak menyebutkan amalan khusus berupa membaca surat Yasin tiga kali, apalagi dengan niat tertentu.
Tidak ditemukan satu pun hadis sahih dari Rasulullah SAW maupun praktik para sahabat yang mengkhususkan bacaan surat Yasin tiga kali pada malam Nisfu Sya’ban. Para ulama seperti Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa amalan-amalan tertentu yang dikaitkan secara khusus dengan Nisfu Sya’ban tanpa dalil adalah perkara yang diada-adakan dalam ibadah.
Rasulullah SAW telah memberikan kaidah tegas dalam masalah ibadah:
“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka amalan itu tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menjadi dasar bahwa mengkhususkan waktu, jumlah, dan tata cara ibadah tanpa dalil termasuk bid’ah idhafiyah.
Adapun membaca Al-Qur’an, termasuk surat Yasin, pada dasarnya adalah amalan yang mulia kapan saja. Namun menjadikannya ritual khusus di malam tertentu dengan jumlah dan niat tertentu tanpa tuntunan Rasulullah SAW menjadikan amalan tersebut tidak tepat secara syariat.
Kesimpulannya, malam Nisfu Sya’ban dianjurkan untuk memperbanyak ibadah secara umum, seperti shalat sunnah, doa, istighfar, dan membaca Al-Qur’an tanpa pengkhususan tertentu. Keselamatan seorang muslim terletak pada mengikuti sunnah Rasulullah SAW, bukan pada tradisi yang diwariskan tanpa dalil yang jelas.