• KEISLAMAN

Niat Baik Saja Tidak Cukup, Amalan Harus Sesuai Contoh Rasulullah SAW

Yahya Sukamdani | Selasa, 03/02/2026
Niat Baik Saja Tidak Cukup, Amalan Harus Sesuai Contoh Rasulullah SAW Ilustrasi foto amalan yang tertolak

Terasmuslim.com - Banyak kaum muslimin memiliki semangat besar dalam beribadah dan berbuat kebaikan. Namun dalam Islam, baiknya niat saja tidak cukup. Sebuah amalan harus memenuhi dua syarat agar diterima oleh Allah, yaitu ikhlas karena Allah dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Tanpa mengikuti contoh Nabi, amalan yang tampak baik bisa menjadi tertolak di sisi Allah.

Allah SWT menegaskan bahwa ketaatan yang benar harus mengikuti Rasul-Nya. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”
(QS. Al-Hasyr: 7).
Ayat ini menunjukkan bahwa ukuran benar dan tidaknya suatu amalan adalah petunjuk Rasulullah SAW, bukan semata logika atau tradisi.

Rasulullah SAW juga mengingatkan secara tegas dalam hadis sahih:

“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menjadi landasan utama bahwa amalan ibadah yang tidak dicontohkan Nabi SAW tidak akan diterima, meskipun pelakunya menganggap itu sebagai kebaikan.

Bahkan dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan.”
(HR. Muslim).
Ini menunjukkan bahwa standar kebaikan dalam agama bukanlah perasaan atau kebiasaan masyarakat, melainkan ittiba’ (mengikuti) sunnah Nabi SAW.

Islam bukan agama yang menolak kebaikan, tetapi agama yang mengatur kebaikan agar berada di jalan yang benar. Amalan yang tidak sesuai sunnah bisa berubah menjadi bid’ah, dan bid’ah dalam perkara ibadah berpotensi menyeret pelakunya kepada kesesatan meskipun niatnya baik.

Karena itu, seorang muslim hendaknya selalu bertanya sebelum beramal: “Apakah amalan ini pernah dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabat?” Jika jawabannya tidak, maka sebaiknya ditinggalkan. Keselamatan agama terletak pada mengikuti sunnah, bukan mengada-adakan ibadah baru.