Ilustrasi istri mengeluhkan suami
Terasmuslim.com - Dalam Islam, rumah tangga dibangun di atas asas sakinah, mawaddah, dan rahmah, yang menuntut adanya saling menghormati antara suami dan istri. Ketika seorang laki-laki—sebagai suami—merasa tidak dihargai, diremehkan, atau diabaikan perannya, hal ini bukan persoalan ego semata, tetapi menyentuh keseimbangan amanah rumah tangga. Allah ﷻ menegaskan bahwa laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga dengan tanggung jawab nafkah dan perlindungan (QS. An-Nisa’: 34), yang menuntut adanya penghormatan terhadap peran tersebut.
Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya sikap saling menghargai dalam pernikahan. Dalam hadits riwayat Tirmidzi, beliau bersabda bahwa sebaik-baik istri adalah yang menyenangkan suaminya ketika dipandang dan taat dalam perkara yang ma’ruf. Ini menunjukkan bahwa penghargaan bukan sekadar kata-kata, tetapi sikap, adab, dan cara berinteraksi. Ketika seorang suami tidak lagi dihormati, sering kali yang terluka bukan hanya perasaannya, tetapi juga semangat tanggung jawab dan ketenangan jiwanya.
Namun Islam juga menuntut keadilan. Ketika seorang laki-laki tidak dihargai, ia diperintahkan untuk bersabar, bermusyawarah, dan memperbaiki dengan hikmah, bukan dengan kezaliman atau kekerasan. Allah ﷻ memerintahkan suami istri untuk menyelesaikan konflik dengan cara yang baik dan bijaksana (QS. An-Nisa’: 19). Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam kelembutan terhadap keluarga, bahkan ketika menghadapi perbedaan dan ujian rumah tangga.
Jika rasa tidak dihargai terus berlarut tanpa perbaikan, Islam membuka jalan islah (perbaikan) melalui nasihat, dialog, hingga melibatkan pihak penengah dari keluarga masing-masing (QS. An-Nisa’: 35). Tujuan Islam bukan mempertahankan pernikahan dengan luka batin yang mendalam, tetapi menjaga kehormatan, keadilan, dan ketakwaan kedua belah pihak. Menghargai suami dan istri adalah bagian dari ibadah, dan mengabaikannya dapat merusak bangunan rumah tangga secara perlahan.