Ilustrasi seseorang sedang berdoa (Foto: Masjid Pogung Dalangan)
Terasmuslim.com - Seorang muslim tidak pernah merasa aman dengan kondisi imannya, karena ia tidak mengetahui bagaimana keadaan hatinya saat ajal menjemput. Oleh sebab itu, Rasulullah ﷺ yang imannya paling sempurna sering berdoa: “Yā Muqallibal qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.” (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu). (HR. Tirmidzi). Hadits ini menjadi dalil kuat bahwa memohon ketetapan hati di atas ketaatan adalah kebutuhan setiap hamba, bukan hanya orang yang merasa lemah imannya.
Al-Qur’an juga mengajarkan agar kaum beriman senantiasa meminta istiqamah hingga akhir hayat. Allah Ta‘ala berfirman: “Wahai Rabb kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri kami petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran: 8). Ayat ini menunjukkan bahwa hidayah tidak cukup hanya diraih, tetapi harus dijaga dan dipelihara dengan doa dan amal ketaatan agar tidak dicabut menjelang kematian.
Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hati yang jauh dari Allah akan lebih cepat diserang penyakit-penyakit hati seperti riya’, ujub, hasad, dan syahwat. Sebaliknya, hati yang dekat dengan Allah akan dilindungi dari penyakit tersebut. Allah Ta‘ala berfirman: “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra‘d: 28). Kedekatan kepada Allah melalui dzikir, shalat, dan tilawah Al-Qur’an adalah benteng terkuat bagi kesehatan hati.
Lebih jauh, Ibnu Qayyim menegaskan bahwa jauhnya hati dari Allah itu bertingkat-tingkat, dan sebagian tingkatannya lebih berbahaya dari yang lain. Ini menjadi peringatan agar seorang muslim tidak meremehkan kelalaian kecil yang terus dibiarkan. Maka, memperbanyak doa, menjaga amal shalih, dan menjauhi sebab-sebab futur adalah ikhtiar agar Allah menutup hidup kita dengan husnul khatimah, dalam keadaan hati yang tetap teguh di atas ketaatan.