• KEISLAMAN

Menjaga Hajat dalam Sunyi

Yahya Sukamdani | Rabu, 21/01/2026
Menjaga Hajat dalam Sunyi Ilustrasi foto pamer kebaikan di social media

Terasmuslim.com - Dalam Islam, menyembunyikan rencana dan hajat termasuk adab yang mulia. Rasulullah ﷺ bersabda, “Mintalah pertolongan untuk keberhasilan hajat-hajat kalian dengan merahasiakannya, karena setiap orang yang memiliki nikmat akan selalu diiringi oleh orang yang dengki” (HR. Ath-Thabrani). Hadis ini menegaskan bahwa tidak semua yang kita upayakan perlu diketahui orang lain, sebab hati manusia beragam, dan tidak semua mampu menerima kebaikan orang lain tanpa rasa iri.

Al-Qur’an juga mengajarkan nilai keikhlasan dan ketenangan dalam berdoa. Allah berfirman, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut” (QS. Al-A’raf: 55). Doa yang sunyi menunjukkan ketundukan dan ketergantungan penuh kepada Allah, bukan kepada pengakuan manusia. Ikhtiar yang dilakukan dalam diam sering kali lebih terjaga dari riya’, sekaligus lebih kuat karena bersandar pada tawakal.

Ketika nikmat itu telah terwujud, Islam tidak melarang untuk menceritakannya, selama niatnya benar. Allah berfirman, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah” (QS. Adh-Dhuha: 11). Para ulama menjelaskan bahwa menceritakan nikmat bertujuan untuk mensyukuri karunia Allah, mengingatkan diri sendiri dan orang lain akan kemurahan-Nya, bukan untuk berbangga diri atau merendahkan yang lain.

Dengan demikian, adab seorang muslim adalah menjaga hajat dalam doa dan ikhtiar yang sunyi, lalu menampakkan nikmat dengan lisan syukur dan hati yang rendah. Sikap ini melatih keikhlasan, menjaga hati dari penyakit ujub dan riya’, serta mengokohkan keyakinan bahwa semua keberhasilan datang semata-mata dari Allah. Inilah keseimbangan antara menyembunyikan proses dan mensyukuri hasil sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.