• KEISLAMAN

Mengubah Rutinitas Makan dan Minum Menjadi Pahala Berkelas

Yahya Sukamdani | Rabu, 21/01/2026
Mengubah Rutinitas Makan dan Minum Menjadi Pahala Berkelas Ilustrasi foto makan dan minum

Terasmuslim.com - Dalam Islam, nilai suatu amal tidak ditentukan oleh besar atau kecilnya perbuatan, melainkan oleh niat yang melatarinya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Makan dan minum yang pada dasarnya mubah dapat berubah menjadi ibadah bernilai pahala ketika diniatkan untuk menjaga kekuatan tubuh agar mampu taat kepada Allah, beribadah, dan menjalankan amanah kehidupan.

Al-Qur’an menegaskan bahwa kenikmatan makan dan minum bukan sekadar urusan jasmani, tetapi juga sarana untuk bersyukur. Allah berfirman, “Makan dan minumlah dari rezeki Allah, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi” (QS. Al-Baqarah: 60). Ayat ini mengajarkan adab bahwa konsumsi seorang muslim harus dilandasi kesadaran akan nikmat Allah, menjauhi sikap berlebihan, serta menjaga diri dari yang haram dan mudarat.

Rasulullah ﷺ juga memberikan tuntunan praktis agar makan dan minum bernilai pahala. Beliau mengajarkan membaca basmalah sebelum makan, menggunakan tangan kanan, tidak mencela makanan, dan berhenti sebelum kenyang. Dalam hadis disebutkan, “Tidak ada bejana yang lebih buruk yang dipenuhi oleh manusia selain perutnya” (HR. Tirmidzi). Adab-adab ini bukan sekadar etika, tetapi sarana membersihkan hati dari kerakusan dan menumbuhkan sikap tawaduk serta pengendalian diri.

Dengan niat yang lurus, adab yang benar, dan rasa syukur yang terus dijaga, rutinitas makan dan minum dapat naik kelas menjadi ibadah bernilai pahala. Bahkan suapan yang masuk ke mulut seorang muslim bisa dicatat sebagai kebaikan jika ia sadar bahwa semua itu adalah amanah dari Allah. Inilah keindahan Islam, yang menjadikan aktivitas harian sekalipun sebagai jalan mendekatkan diri kepada Rabb semesta alam.