• KEISLAMAN

Cara Membersihkan Kotoran Syubhat dan Syahwat Menurut Al-Qur`an dan Sunnah

Yahya Sukamdani | Selasa, 20/01/2026
Cara Membersihkan Kotoran Syubhat dan Syahwat Menurut Al-Qur`an dan Sunnah Ilustrasi foto syubhat dan syahwat

Terasmuslim.com - Syubhat (kerancuan pemikiran) dan syahwat (dorongan hawa nafsu) adalah dua penyakit besar hati yang dapat menghalangi seorang hamba dari kebenaran. Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam hadits yang masyhur: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barang siapa menjaga diri dari syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menjadi dasar bahwa menjauhi syubhat adalah langkah awal membersihkan hati.

Cara utama membersihkan kotoran syubhat adalah dengan menuntut ilmu syar’i yang benar dan merujuk kepada Al-Qur’an serta Sunnah dengan pemahaman para ulama. Allah ﷻ berfirman: “Maka jika kalian berselisih dalam suatu perkara, kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisa: 59). Ilmu yang shahih akan membedakan antara kebenaran dan kebatilan, sehingga hati tidak mudah terombang-ambing oleh pemikiran sesat atau dalil yang dipelintir.

Adapun syahwat dibersihkan dengan mujahadah (kesungguhan melawan hawa nafsu), memperbanyak ibadah, dan menjaga pandangan. Allah ﷻ berfirman: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69). Rasulullah ﷺ juga menasihati para pemuda: “Wahai para pemuda, barang siapa mampu menikah maka menikahlah, dan barang siapa belum mampu hendaklah ia berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa syahwat diatasi dengan solusi syar’i, bukan dengan menuruti hawa nafsu.

Selain itu, taubat yang terus-menerus dan memperbanyak dzikir adalah sarana pembersih hati yang paling efektif dari syubhat dan syahwat. Allah ﷻ berfirman: “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Hati yang hidup dengan dzikir akan sensitif terhadap dosa dan penyimpangan. Ketika hati bersih, kebenaran menjadi jelas dan hawa nafsu melemah. Inilah jalan keselamatan bagi seorang mukmin hingga akhir hayat.