• KEISLAMAN

Inikah Kita? Saat Harta Bertambah, Ibadah Justru Menyusut

Yahya Sukamdani | Rabu, 24/12/2025
Inikah Kita? Saat Harta Bertambah, Ibadah Justru Menyusut Ilustrasi foto infak

Terasmuslim.com - Fenomena makin sibuk mencari harta namun makin malas beribadah adalah ujian yang telah lama diperingatkan dalam Islam. Allah Ta‘ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi” (QS. Al-Munafiqun: 9). Ayat ini menegaskan bahwa harta bukanlah masalah, tetapi ketika ia melalaikan dari dzikir, shalat, dan ketaatan, di situlah letak kerugiannya.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan tentang bahaya dunia yang melalaikan. Dalam sebuah hadits beliau bersabda, “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatirkan dunia dilapangkan atas kalian sebagaimana telah dilapangkan atas orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba padanya, dan akhirnya membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa kelapangan rezeki justru bisa menjadi sebab jauhnya seseorang dari ibadah jika tidak disertai rasa syukur dan takut kepada Allah.

Makin lancarnya usaha, namun makin jauh dari majelis ilmu, juga merupakan tanda kelalaian yang berbahaya. Allah Ta‘ala berfirman, “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Dan sungguh negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui” (QS. Al-‘Ankabut: 64). Majelis ilmu adalah jalan untuk mengingatkan hati tentang hakikat akhirat. Ketika seseorang merasa “tidak sempat” belajar agama karena urusan dunia, sejatinya ia sedang tertipu oleh gemerlap yang sementara.

Islam tidak melarang bekerja keras dan mencari harta, bahkan itu bisa bernilai ibadah jika diniatkan dengan benar. Namun keseimbangan adalah kuncinya. Allah memerintahkan, “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia” (QS. Al-Qashash: 77). Seorang mukmin sejati menjadikan harta sebagai sarana mendekat kepada Allah, bukan alasan untuk menjauh dari ibadah dan majelis ilmu. Jika harta membuat kita lalai, maka itulah tanda bahwa hati perlu segera dibenahi.