Terasmuslim.com - Mengenal hakikat manusia dalam Islam dimulai dari memahami asal penciptaannya. Allah menjelaskan dalam QS. Al-Mu’minun: 12–14 bahwa manusia diciptakan dari tanah, kemudian melalui proses bertahap dalam rahim ibu. Ini mengajarkan bahwa manusia berasal dari sesuatu yang hina secara fisik, namun diberikan kemuliaan oleh Allah. QS. Al-Isra’: 70 menegaskan bahwa Allah memuliakan manusia sebuah petunjuk bahwa hakikat manusia adalah makhluk mulia yang diberi tanggung jawab besar di bumi.
Selain jasad, hakikat manusia mencakup ruh yang ditiupkan oleh Allah. Dalam QS. Al-Hijr: 29, Allah berfirman bahwa setelah menyempurnakan penciptaan Adam, Allah meniupkan ruh-Nya. Ruh inilah yang menjadikan manusia memiliki akal, rasa, dan kemampuan beriman. Dari sini Islam menegaskan bahwa manusia bukan hanya tubuh, tetapi makhluk spiritual yang memiliki hubungan langsung dengan Penciptanya. Menyadari hal ini membuat manusia memahami bahwa hidup bukan sekadar fisik, tetapi perjalanan ruh untuk kembali kepada Allah.
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa manusia membawa fitrah sejak lahir. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda, “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah…” Fitrah ini adalah modal dasar berupa kecenderungan kepada kebaikan dan pengakuan terhadap Allah. Memahami hakikat ini membantu seseorang mengenal dirinya lebih dalam: bahwa manusia pada dasarnya baik, namun lingkungan, hawa nafsu, dan godaan syaitan bisa menutup fitrah itu. Tugas manusia adalah menjaga dan mengembalikan fitrah tersebut.
Akhirnya, mengenal hakikat manusia berarti memahami tujuan keberadaan dirinya. Dalam QS. Adz-Dzariyat: 56, Allah menyatakan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah. Hakikat manusia adalah hamba sekaligus khalifah di bumi yang harus menjalankan amanah, menjaga moral, dan berbuat kebaikan. Ketika seseorang mengenal hakikat dirinya, ia akan lebih tenang menjalani hidup, tidak mudah goyah, dan selalu mengarah pada keridhaan Allah.

































