Terasmuslim.com - Islam sangat melarang seorang muslim merasa lebih baik dari orang lain, karena sifat tersebut merupakan bentuk kesombongan yang membinasakan. Allah mengingatkan dalam QS. An-Najm: 32 bahwa “Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah (Allah) yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” Ayat ini menegaskan bahwa manusia tidak pernah benar-benar mengetahui kualitas iman dan amal orang lain. Seseorang bisa terlihat buruk di mata manusia, namun justru sangat mulia di sisi Allah.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kesombongan adalah akhlak yang menghalangi seseorang masuk surga. Dalam hadis sahih, Beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim). Ketika seseorang merasa lebih baik, lebih suci, atau lebih tinggi dari orang lain, saat itu pula ia telah menempatkan dirinya pada posisi yang dilarang oleh Allah. Kesombongan seperti inilah yang dulu membuat Iblis diusir dari surga karena merasa lebih mulia dari Nabi Adam.
Al-Qur’an juga mengingatkan agar manusia tidak meremehkan orang lain, karena meremehkan adalah pintu awal kesombongan. Dalam QS. Al-Hujurat: 11, Allah berfirman: “Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain. Boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada mereka.” Ayat ini menunjukkan bahwa standar penilaian manusia sangat terbatas; hanya Allah yang mengetahui isi hati, ketulusan, dan akhir hidup seseorang.
Sikap merasa lebih baik dari sesama juga dapat merusak amal kebaikan, karena melahirkan riya’, ujub, dan meremehkan kekurangan orang lain. Dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak diukur dari penampilan, jabatan, status sosial, atau panjangnya ibadah yang tampak. Allah menegaskan dalam QS. Al-Hujurat: 13 bahwa “Yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.” Dan ketakwaan adalah urusan hati yang tidak bisa dilihat oleh manusia.
Karena itu, seorang muslim harus menjaga hati agar selalu rendah diri di hadapan Allah dan bersikap tawadhu kepada manusia. Tidak ada jaminan bahwa orang yang tampak banyak ibadahnya hari ini akan tetap istiqamah esok hari. Dan tidak ada kepastian bahwa mereka yang masih bergelut dengan dosa tidak akan berubah menjadi lebih baik. Merasa lebih baik dari orang lain adalah jebakan halus syaitan, sedangkan tawadhu adalah jalan menuju kemuliaan di sisi Allah.































