• KISAH

Kisah Semut dan Kepemimpinan Bijaksana Nabi Sulaiman

Yahya Sukamdani | Sabtu, 23/05/2026
Kisah Semut dan Kepemimpinan Bijaksana Nabi Sulaiman Ilustrasi semut (Foto: Unsplash/Pabir Kashyap)

Terasmuslim.com - Nabi Sulaiman AS dikenal dalam sejarah sebagai seorang rasul sekaligus raja diraja yang memiliki kekuasaan paling megah di bumi.

Allah SWT mengaruniai beliau mukjizat luar biasa berupa kemampuan unik untuk memahami bahasa berbagai macam binatang.

Kisah interaksi sarat makna antara sang nabi dan koloni serangga ini diabadikan dengan indah dalam Surat An-Naml.

Suatu hari, Nabi Sulaiman AS sedang berbaris memimpin bala tentara besarnya yang terdiri dari manusia, jin, dan burung-burung.

Ketika rombongan besar tersebut hendak melewati sebuah lembah, seekor pimpinan semut menyadari kedatangan mereka dan merasa terancam.

Allah SWT berfirman mengenai seruan semut tersebut:

"Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari." (QS. An-Naml: 18).

Sains modern membuktikan bahwa semut memiliki sistem komunikasi yang sangat canggih melalui zat kimia feromon dan getaran suara.

Mendengar kekhawatiran rakyat kecil tersebut, Nabi Sulaiman AS tidak bersikap sombong melainkan tersenyum ramah mendengarnya.

Beliau langsung menghentikan laju seluruh pasukannya yang perkasa demi menyelamatkan koloni semut yang ada di depan mereka.

Sikap ini termaktub dalam ayat selanjutnya: "Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu." (QS. An-Naml: 19).

Nabi Sulaiman AS kemudian berdoa memohon agar selalu menjadi hamba yang pandai bersyukur atas segala nikmat besar yang diterimanya.

Kisah kebaikan terhadap semut ini sejalan dengan ajaran kasih sayang yang dibawa oleh cucu keturunan para nabi, Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW melarang umatnya untuk bertindak semena-mena dan membunuh serangga kecil yang tidak berbahaya ini.

Ibnu Abbas RA meriwayatkan: "Sesungguhnya Nabi SAW melarang membunuh empat binatang: semut, lebah, burung hud-hud, dan burung shurad." (HR. Abu Dawud).

Peristiwa ini menjadi cerminan bahwa pemimpin yang sejati adalah mereka yang memiliki empati tinggi dan peduli pada keselamatan rakyat paling lemah sekalipun.