Ilustrasi serigala (Foto: Wiki)
Terasmuslim.com - Nabi Yusuf AS sejak kecil telah dianugerahi ketampanan luar biasa dan kasih sayang yang mendalam dari sang ayah, Nabi Ya`qub AS.
Keistimewaan tersebut memicu rasa iri hati dan kecemburuan yang sangat besar di dalam dada saudara-saudara kandungnya.
Mereka kemudian menyusun sebuah rencana jahat untuk membuang Yusuf kecil ke dalam sebuah sumur yang dalam dan terpencil.
Untuk menutupi perbuatan keji tersebut, mereka membuat sebuah skenario dusta dengan membawa-bawa nama seekor serigala.
Kisah kebohongan yang menggunakan nama hewan liar ini diabadikan secara rinci oleh Allah SWT di dalam Surat Yusuf.
Para saudara Yusuf kembali kepada ayah mereka pada malam hari sambil menangis histeris demi meyakinkan kepalsuan mereka.
Allah SWT berfirman mengenai ucapan dusta mereka:
"Mereka berkata: `Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.`" (QS. Yusuf: 17).
Mereka juga membawa bukti palsu berupa baju gamis Nabi Yusuf yang telah dilumuri dengan darah domba.
Hal ini ditegaskan dalam ayat berikutnya: "Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu." (QS. Yusuf: 18).
Namun, Nabi Ya`qub AS yang dipenuhi hikmah tidak langsung mempercayai alasan serigala tersebut karena baju Yusuf sama sekali tidak robek.
Nabi Ya`qub AS menyadari bahwa serigala hanyalah dijadikan kambing hitam atas konspirasi besar yang dirancang oleh anak-anaknya sendiri.
Dalam sejarah dan riwayat tafsir, kisah serigala ini sering dibahas sebagai contoh bagaimana makhluk tak bersalah kerap difitnah oleh keserakahan manusia.
Meskipun tidak ada hadis sahih mutawatir yang menyebut serigala tersebut bisa berbicara, Rasulullah SAW sering mengingatkan umatnya tentang bahaya sifat hasad seperti saudara Yusuf.
Nabi SAW bersabda: "Jauhilah oleh kalian sifat hasad (dengki), karena hasad itu memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar." (HR. Abu Dawud).
Kisah serigala dalam sejarah Nabi Yusuf ini pada akhirnya mengajarkan kita bahwa kebenaran tidak akan pernah bisa ditutupi oleh kebohongan serapat apa pun.