Ilustrasi foto menampakan kesombongan
Terasmuslim.com - Dalam pandangan Islam, hati memiliki peran utama dalam menentukan baik buruknya seluruh amal manusia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Ketahuilah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hati yang rusak adalah awal dari kehancuran iman dan amal. Salah satu sumber utama kerusakan hati adalah maksiat yang dilakukan secara terus-menerus, tanpa rasa penyesalan. Allah berfirman dalam QS. Al-Muthaffifin ayat 14: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
Selain dosa yang dibiarkan menumpuk, hati juga rusak karena mengikuti hawa nafsu dan syahwat dunia. Ketika seseorang lebih menuruti keinginan pribadi daripada petunjuk Allah, maka cahaya iman akan meredup. Allah memperingatkan dalam QS. Al-Jatsiyah ayat 23: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya?” Ayat ini menunjukkan bahwa mengikuti hawa nafsu tanpa kendali dapat menutup pintu hidayah dan menyesatkan hati.
Sumber lain kerusakan hati adalah lalai dari zikir dan ilmu agama. Hati yang jauh dari mengingat Allah akan menjadi keras dan gelap. Allah berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 22: “Maka celakalah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allah.” Zikir, shalat, dan tilawah Al-Qur’an adalah penawar yang menenangkan hati. Sebaliknya, ketika manusia sibuk dengan dunia dan melupakan Tuhannya, maka hatinya akan kering dari rahmat dan mudah disusupi kesedihan serta iri dengki.
Akhirnya, sumber kerusakan hati yang paling berbahaya adalah kesombongan dan merasa cukup dari Allah. Iblis menjadi terkutuk bukan karena kurang ibadah, tetapi karena kesombongannya menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam. Maka, siapa pun yang menyimpan kesombongan, dengki, dan riya di dalam hati, ia telah menanam bibit kerusakan yang dalam.