Ilustrasi - penyakit Ain (Foto: AI)
Jakarta, Terasmuslim.com - Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian orang mungkin pernah mendengar istilah ‘ain, yaitu kondisi di mana seseorang mengalami gangguan karena pandangan iri atau kagum dari orang lain.
Istilah ini kerap dikaitkan dengan sakit mendadak, kehilangan semangat, atau bahkan turunnya rezeki tanpa sebab yang jelas. Pertanyaannya, apakah penyakit ‘ain itu benar-benar nyata?
Kata ‘ain (العين) secara bahasa berarti “mata”. Dalam konteks Islam, ‘ain merujuk pada pandangan mata yang disertai perasaan iri atau hasad, yang dapat memberikan pengaruh buruk kepada orang yang dipandang.
Keyakinan tentang adanya ‘ain bukan sekadar mitos atau kepercayaan turun-temurun, melainkan memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Dalam Al-Qur`an, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk berlindung dari kejahatan orang yang dengki:
وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS. Al-Falaq: 5)
Ayat ini menunjukkan bahwa dengki dan pandangan hasad dapat membawa pengaruh buruk terhadap orang lain. Selain itu, Rasulullah SAW juga menegaskan dalam sebuah hadis shahih:
الْعَيْنُ حَقٌّ
“‘Ain itu benar adanya.” (HR. Muslim)
Hadis ini memperjelas bahwa ‘ain adalah sesuatu yang nyata dan bisa menimpa siapa pun, baik orang dewasa maupun anak-anak, laki-laki maupun perempuan.
Para ulama menjelaskan bahwa ‘ain dapat terjadi ketika seseorang melihat sesuatu dengan rasa kagum atau iri tanpa mengucapkan doa kebaikan. Pandangan tersebut, dengan izin Allah, bisa menimbulkan pengaruh negatif.
Namun, penting dipahami bahwa ‘ain tidak memiliki kekuatan sendiri, melainkan terjadi karena ketetapan Allah SWT.
Untuk menghindarinya, umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir dan doa perlindungan, seperti membaca Surah Al-Falaq, An-Naas, serta doa ketika melihat sesuatu yang indah:
اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَيْهِ
“Ya Allah, berkahilah hal itu baginya.”
Selain berlindung melalui doa, Islam juga mengajarkan agar setiap muslim menjaga hati dari sifat iri dan dengki. Rasa kagum sebaiknya diiringi dengan doa agar kebaikan yang dimiliki orang lain menjadi berkah, bukan sumber iri hati.
Dengan begitu, umat Islam tidak hanya terlindung dari dampak ‘ain, tetapi juga membangun hati yang tenang dan penuh syukur.
Penyakit ‘ain merupakan fenomena yang nyata menurut ajaran Islam, namun umat Islam diajarkan untuk tidak berlebihan dalam meyakininya. Semua yang terjadi tetap dalam kehendak Allah SWT. Kunci utama perlindungan dari ‘ain adalah dzikir, doa, dan menjaga kebersihan hati dari iri serta dengki.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, setiap gangguan memiliki sebab, dan setiap sebab memiliki penawarnya. Maka, selain berdoa, menjaga niat dan perasaan adalah langkah terbaik untuk hidup dalam ketenangan dan keberkahan.