• KEISLAMAN

Hidayah Itu Dijemput, Bukan Ditunggu

Yahya Sukamdani | Jum'at, 24/10/2025
Hidayah Itu Dijemput, Bukan Ditunggu Ilustrasi nikmat hidayah

Terasmuslim.com - Dalam kehidupan seorang muslim, hidayah adalah anugerah terbesar dari Allah SWT. Namun, banyak orang yang salah memahami maknanya. Sebagian hanya menunggu datangnya hidayah tanpa melakukan usaha apa pun. Padahal, dalam Islam, hidayah bukan sesuatu yang datang begitu saja ia harus dijemput dengan kesungguhan hati, amal saleh, dan keinginan kuat untuk berubah.

Hidayah merupakan petunjuk Allah menuju jalan kebenaran. Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa petunjuk diberikan kepada mereka yang mau berusaha mencarinya. Dalam firman-Nya:

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)

Ayat ini menjelaskan bahwa hidayah tidak diberikan secara acak. Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang berusaha mendekat kepada-Nya, bukan kepada yang hanya menunggu tanpa tindakan. Usaha itu bisa berupa memperbaiki ibadah, memperbanyak doa, dan meninggalkan dosa.

Rasulullah ﷺ juga menegaskan pentingnya usaha dalam mencari petunjuk. Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa menjemput hidayah bisa dilakukan dengan menuntut ilmu agama, karena ilmu adalah cahaya yang menuntun manusia menuju kebenaran. Semakin seseorang mendalami ilmu dan mengamalkannya, semakin terbuka hatinya terhadap petunjuk Allah.

Menjemput hidayah berarti aktif berproses menuju perubahan. Tidak cukup hanya berkata “semoga diberi hidayah,” tetapi perlu langkah nyata — memperbanyak istighfar, memperbaiki shalat, bergaul dengan orang saleh, serta menjauhi maksiat yang menutupi hati. Hidayah tidak akan masuk ke hati yang tertutup oleh dosa dan kesombongan.

Hidayah juga bisa datang dalam bentuk ujian. Kadang Allah mengguncang kehidupan seseorang agar ia sadar dan kembali kepada-Nya. Maka, setiap musibah hendaknya menjadi momentum untuk menjemput hidayah, bukan malah berpaling dari-Nya.

Seorang ulama mengatakan, “Hidayah tidak datang kepada orang yang diam, tapi kepada mereka yang berjalan menuju Allah.” Artinya, manusia harus berusaha agar layak mendapatkan petunjuk. Hidayah adalah cahaya, dan cahaya itu hanya datang kepada hati yang mau terbuka menerimanya.