Ilustrasi foto pusing menghadapi ujian hidup
Terasmuslim.com - Dalam kehidupan manusia, musibah sering kali dianggap sebagai cobaan yang berat. Namun, Islam memandang musibah bukan sekadar penderitaan, melainkan juga bentuk kasih sayang Allah untuk membersihkan hati dari penyakit batin seperti ujub (bangga diri), takabbur (sombong), dan sikap membanggakan diri atas kelebihan yang dimiliki.
Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 22–23: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah, (agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu).” Ayat ini mengajarkan agar manusia tidak sombong ketika mendapat nikmat, dan tidak berputus asa ketika diuji, karena semuanya adalah bagian dari ketetapan Allah.
Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam hadis riwayat Tirmidzi: “Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia menguji mereka. Barang siapa ridha, maka baginya keridhaan Allah; dan barang siapa murka, maka baginya kemurkaan Allah.” Musibah, dengan demikian, menjadi sarana untuk menundukkan hati yang sombong, mengembalikan kesadaran manusia bahwa segala sesuatu datang dari Allah, bukan dari kehebatan dirinya sendiri.
Seseorang yang terjangkit ujub atau takabbur cenderung merasa cukup dengan dirinya, lupa bahwa nikmat yang dimilikinya hanyalah titipan. Maka, ketika musibah datang seperti sakit, kehilangan, atau kegagalan itu menjadi pengingat bahwa manusia lemah dan sepenuhnya bergantung kepada Allah. Inilah hikmah tersembunyi di balik musibah yang sering luput disadari.
Musibah juga menjadi jalan untuk menyucikan jiwa dan menumbuhkan kerendahan hati. Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang mukmin tertimpa keletihan, penyakit, kesedihan, kesusahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan kesadaran ini, seorang mukmin akan menerima ujian dengan sabar dan tawakal, tanpa merasa dunia ini miliknya. Ia belajar bahwa kemuliaan bukan diukur dari harta, jabatan, atau kekuatan, tetapi dari seberapa tulus ia kembali kepada Allah dalam setiap keadaan.