Ilustrasi - berdoa (Foto: ADVENTISTHEALTHCARE)
Jakarta, Terasmuslim.com - Dalam tradisi keagamaan Islam, doa-doa yang diasosiasikan dengan para nabi memiliki tempat istimewa dalam hati umat.
Salah satu doa yang banyak dikenal dan diamalkan adalah doa Nabi Ilyas AS yang sering disampaikan bersama Nabi Khidir AS.
Meskipun dalam Al-Qur`an lafadz doanya tidak disebut secara eksplisit, para ulama dan literatur salaf menukil doa tersebut sebagai bacaan dzikir yang mengandung permohonan perlindungan dan mendatangkan kebaikan.
Doa Nabi Ilyas yang populer berbunyi:
بِسْمِ اللهِ مَا شَاءَ اللهُ لَا يَسُوْقُ الْخَيْرَ إِلَّا اللهُ
بِسْمِ اللهِ مَا شَاءَ اللهُ لَا يَصْرِفُ السُّوءَ إِلَّا اللهُ
بِسْمِ اللهِ مَا كَانَ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ
بِسْمِ اللهِ مَا شَاءَ اللهُ لَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ Liputan6
Bismillāhi mā syā’a-llāhu lā yasūqul-khaira illā-llāh,
Bismillāhi mā syā’a-llāhu lā yashrifus-su’a illā-llāh,
Bismillāhi mā kāna min ni‘matin faminallāh,
Bismillāhi mā syā’a-llāhu lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh. Liputan6
“Dengan menyebut nama Allah, segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya; tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah. Dengan menyebut nama Allah, segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya; tidak ada yang menyingkirkan keburukan kecuali Allah. Dengan menyebut nama Allah, segala nikmat yang ada adalah dari Allah. Dengan menyebut nama Allah, segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya; tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Dalam versi lain yang dikutip dari Al-Durr Al-Mansur karya Al-Suyuthī, formula bacaan sedikit berbeda, di mana pada kalimat kedua dan ketiga tidak diawali dengan bismillāh. Secara makna tidak jauh berbeda, hanya perbedaan redaksi kecil.
Para ulama menjelaskan bahwa doa ini memiliki keutamaan sebagai bentuk tawakkal (berserah diri) dan permohonan perlindungan kepada Allah SWT.
Dalam tradisi tasawuf dan dzikir harian, doa ini sering diamalkan terutama di pagi dan sore hari sebagai penjaga diri dari bahaya lahir dan batin.
Menurut Ibnu ‘Abbas, yang dikutip dalam kitab Tanwir al-Qulub, barang siapa membaca keempat kalimat doa ini tiga kali di pagi dan sore hari, maka dia akan dijaga dari berbagai musibah, seperti tenggelam, kebakaran, pencurian, gangguan syaitan, tindakan penguasa yang zalim, hingga bahaya binatang berbisa seperti ular dan kalajengking.
Meski demikian, penting untuk dicatat bahwa sebagian ulama menganggap riwayat doa ini tergolong lemah (daif). Namun mereka membolehkan mengamalkannya dalam konteks dzikir dan motivasi spiritual, selama tidak dijadikan dasar hukum atau keyakinan yang mutlak.
Kisah Nabi Ilyas sendiri dalam Al-Qur`an menggambarkan betapa beliau berdakwah menentang kemusyrikan, memperingatkan kaumnya agar menyembah Allah semata dan meninggalkan penyembahan berhala Baal.
Dalam momen ketika doanya didengarkan oleh Allah, Allah menurunkan hujan setelah masa kekeringan panjang yang menjadi cobaan bagi kaumnya.
Di zaman sekarang, umat Muslim menyikapi doa ini sebagai warisan spiritual yang mengajarkan bahwa manusia sepenuhnya bergantung kepada Allah, bahwa kebaikan dan perlindungan hanya datang dari-Nya.
Dengan membaca doa tersebut, seorang hamba mengingat bahwa segala sesuatu berada dalam kehendak Allah, dan memohon agar dijauhkan dari bahaya serta dilimpahi kebaikan.
Meski bukan termasuk doa yang dibawa langsung dalam Al-Qur`an atau hadis marfu` yang saling mendukung dalam semua aspek hukum, doa Nabi Ilyas ini tetap menjadi bagian dari khazanah praktis dzikir umat Islam yang bisa diamalkan dengan niat baik dan kesadaran bahwa Allah Maha Pemurah dan Maha Perkasa.