Ilustrasi: Media Sosial. Foto: Reuters
Terasmuslim.com - Di era digital, lisan tidak lagi terbatas pada ucapan langsung, melainkan juga tercermin dari tulisan dan komentar di media sosial. Islam mengajarkan bahwa setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban, terlebih bila lisan atau dalam konteks modern, jari-jari dipakai untuk menyebar kebohongan, ghibah, fitnah, atau ujaran kebencian. Hal-hal tersebut dapat menyeret seseorang kepada kebangkrutan besar di akhirat, sebagaimana sabda Nabi tentang orang yang datang membawa pahala shalat dan puasa, namun habis karena menzalimi orang lain dengan lisannya.
Buruknya lisan di media sosial tidak hanya berbahaya secara spiritual, tetapi juga berdampak pada kehidupan dunia. Banyak kasus hukum, rusaknya reputasi, hingga hancurnya hubungan sosial bermula dari satu kalimat yang ditulis tanpa pertimbangan. Media sosial memang memberi kebebasan berekspresi, tetapi tanpa kendali akhlak, kebebasan itu dapat berubah menjadi bumerang yang mencelakakan diri sendiri.
Seorang muslim dituntut bijak dalam menggunakan lisan dan tulisan. Menahan diri dari komentar yang menyakiti, menyebarkan kebaikan, serta berhati-hati dalam setiap unggahan adalah wujud nyata menjaga amanah Allah. Dengan demikian, media sosial bisa menjadi ladang pahala, bukan sumber kebangkrutan yang menjerumuskan. Karena pada akhirnya, setiap kata akan diperhitungkan di hadapan Allah.