Ilustrasi lafadz Nabi Muhammad SAW (Foto: Pexels/Necati Ömer Karpuzoğlu)
Terasmuslim.com - Perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ kini menjadi salah satu tradisi besar di berbagai negara Muslim, termasuk Indonesia. Umat Islam memperingatinya dengan doa, pengajian, ceramah agama, hingga kegiatan sosial. Namun, tidak semua orang tahu siapa yang pertama kali memulai tradisi peringatan kelahiran Nabi ini. Pertanyaan ini kerap menimbulkan perdebatan, mengingat perayaan maulid tidak pernah dilakukan di masa Rasulullah ﷺ, para sahabat, maupun generasi tabi’in.
Sejarawan Islam mencatat bahwa peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan pada era Dinasti Fathimiyah di Mesir, sekitar abad ke-10 M. Dinasti ini dikenal sebagai kerajaan yang berhaluan Syiah Ismailiyah. Mereka memperingati kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, bahkan juga merayakan hari kelahiran anggota Ahlul Bait, seperti Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra. Pada masa itu, perayaan lebih bersifat seremonial dan berbau politik, sebagai bagian dari legitimasi kekuasaan.
Tradisi Maulid kemudian menyebar ke wilayah lain dengan bentuk yang lebih islami dan sederhana. Sejarah juga mencatat Sultan Al-Muzhaffar Abu Sa’id Kukburi, seorang penguasa Irbil (Irak) pada abad ke-13 M, sebagai tokoh penting dalam penyebaran perayaan Maulid. Ia merayakan Maulid Nabi dengan megah, mengundang para ulama, qari, dan masyarakat untuk bersama-sama memperingati kelahiran Rasulullah ﷺ dengan zikir, tilawah, serta ceramah. Dari sinilah tradisi peringatan Maulid berkembang ke berbagai negeri Muslim, termasuk ke Nusantara melalui para ulama dan wali.
Di Indonesia, Maulid Nabi menjadi bagian dari budaya keagamaan sejak zaman Wali Songo. Sunan Kalijaga misalnya, menggunakan momentum peringatan Maulid untuk mengajarkan Islam lewat kesenian, seperti gamelan, syair pujian kepada Nabi, dan wayang. Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi perayaan yang khas di berbagai daerah, misalnya Sekaten di Yogyakarta dan Grebeg Maulid di Cirebon.
Meski ada perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai hukum merayakan Maulid, sebagian besar ulama melihatnya sebagai amalan baik selama diisi dengan kegiatan positif seperti doa, dzikir, dan shalawat. Imam Jalaluddin As-Suyuthi bahkan menilai peringatan Maulid sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas diutusnya Nabi Muhammad ﷺ.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tradisi Maulid pertama kali muncul di Mesir pada masa Dinasti Fathimiyah, kemudian berkembang pesat di Irak pada masa Sultan Al-Muzhaffar, hingga akhirnya menyebar ke seluruh dunia Islam. Kini, peringatan Maulid tidak hanya menjadi momen keagamaan, tetapi juga bagian dari identitas budaya umat Muslim di berbagai belahan dunia.