• KEISLAMAN

Bicara yang Baik atau Diam, Etika Lisan dalam Islam yang Menyelamatkan

Yahya Sukamdani | Senin, 08/09/2025
Bicara yang Baik atau Diam, Etika Lisan dalam Islam yang Menyelamatkan Ilustrasi Menjaga lisan (Foto: Ist)

Terasmuslim.com - Lisan adalah salah satu anugerah besar dari Allah ﷻ yang bisa menjadi jalan menuju kebaikan sekaligus pintu kehancuran. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menjadi pedoman agung bagi seorang muslim dalam menjaga ucapan agar tidak tergelincir pada hal-hal yang mendatangkan dosa.

Bicara yang baik mencakup ucapan yang benar, bermanfaat, dan membawa kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain. Perkataan berupa doa, nasihat, pujian yang jujur, atau sekadar ucapan yang menenangkan hati sesama adalah bagian dari amal shalih yang bernilai pahala. Lisan yang dijaga akan menjadi cermin kebersihan hati sekaligus bukti ketakwaan seseorang.

Sebaliknya, ucapan buruk seperti ghibah, fitnah, berkata kasar, atau menyakiti perasaan orang lain bisa menjadi sebab utama seseorang terjerumus ke dalam dosa besar. Bahkan, Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa kebanyakan manusia tergelincir ke dalam neraka bukan karena perbuatan fisik, melainkan akibat lisan yang tidak terjaga. Hal ini menunjukkan betapa bahayanya bila seorang muslim meremehkan ucapannya.

Diam dalam konteks ini bukan berarti pasif atau menutup diri, melainkan sikap bijak untuk tidak berbicara jika ucapan tidak membawa manfaat. Dengan diam, seseorang bisa terhindar dari dosa sia-sia sekaligus menjaga kehormatan dirinya. Diam juga memberi ruang untuk berpikir jernih sebelum mengeluarkan perkataan yang bisa berakibat buruk.

Dalam kehidupan modern, menjaga lisan tidak hanya berlaku pada ucapan langsung, tetapi juga tulisan di media sosial, komentar digital, maupun pesan singkat. Semua yang keluar dari diri kita, baik lisan maupun tulisan, akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ﷻ. Oleh karena itu, prinsip “bicara yang baik atau diam” sangat relevan untuk diterapkan dalam keseharian, terutama di era digital yang rawan ujaran kebencian.

Membiasakan diri dengan perkataan baik juga akan membangun lingkungan sosial yang sehat. Keluarga menjadi lebih harmonis, pertemanan semakin erat, dan masyarakat terjaga dari permusuhan. Dengan demikian, menjaga lisan bukan hanya ibadah personal, tetapi juga bentuk kontribusi nyata terhadap kebaikan bersama.

Keywords :