• KEISLAMAN

Asal Usul Nama Safar, Bulan Kedua dalam Kalender Hijriah

Agus Mughni Muttaqin | Jum'at, 01/08/2025
Asal Usul Nama Safar, Bulan Kedua dalam Kalender Hijriah Ilustrasi bulan Safar

Terasmuslim.com - Dalam kalender Hijriah, bulan kedua dikenal sebagai Safar. Meski terdengar sederhana, nama ini menyimpan sejarah panjang yang mencerminkan dinamika sosial masyarakat Arab sebelum datangnya Islam.

Dikutip dari berbagai sumber, kata “Safar” berasal dari bahasa Arab yang berarti kosong, sepi, atau perjalanan. Makna ini bukan hanya merujuk pada kondisi fisik, tetapi juga realitas sosial yang hidup dalam masyarakat padang pasir kala itu.

Menurut penjelasan para ulama klasik, sebutan Safar muncul karena pada masa pra-Islam banyak perkampungan menjadi lengang. Penduduknya pergi meninggalkan rumah untuk berdagang, berperang, atau berpindah tempat mencari sumber kehidupan.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim menjelaskan bahwa rumah-rumah di jazirah Arab tampak sunyi saat bulan ini datang. Keheningan itu mencerminkan gaya hidup nomaden yang begitu melekat pada masyarakat kala itu.

Keterangan serupa disampaikan oleh Ibnu Mandzur dalam Lisânul ‘Arab yang menyebut bahwa kota Makkah kerap kosong ditinggal para penghuninya. Mereka melakukan perjalanan ke luar kota karena tuntutan hidup atau ancaman serangan dari kabilah lain.

Kondisi tersebut menjadikan bulan Safar bukan sekadar momen pergantian waktu, tetapi juga simbol dari mobilitas dan ketidakpastian. Dalam banyak kasus, masyarakat berangkat tanpa bekal yang cukup karena takut serangan mendadak.

Selain ditandai dengan rumah-rumah kosong, ladang-ladang juga turut ditinggalkan usai masa panen. Tradisi memanen sebelum bulan Safar berlangsung menjadikan lahan-lahan pertanian terlihat tandus dan tak lagi berpenghuni.

Tiga gambaran ini—rumah kosong, perjalanan tergesa-gesa, dan ladang yang ditinggalkan—membentuk narasi kuat tentang bagaimana bulan Safar diberi nama. Penjelasan ini tercatat dalam berbagai literatur klasik, termasuk karya Muhammad al-Anshari.

Namun makna Safar tidak berhenti di masa lalu. Hari ini, nama Safar tetap digunakan secara luas dalam kalender Hijriah dan menjadi bagian dari kehidupan umat Islam di berbagai belahan dunia.

Bulan ini bukan termasuk bulan haram seperti Muharram atau Dzulhijjah, tetapi sejarah di balik penamaannya mengajak kita memahami akar budaya Islam dari sudut yang lebih dalam. Nama-nama bulan Hijriah bukan sekadar penanda waktu, melainkan rekam jejak budaya yang hidup di tengah masyarakat Arab kuno.

Pemahaman terhadap nama Safar juga menjadi pengingat bahwa sistem kalender Islam lahir dari realitas sosial yang nyata. Ia bukan hanya spiritual, tetapi juga sosiologis dan antropologis.

Pada tahun 1447 Hijriah ini, bulan Safar dimulai pada Sabtu, 26 Juli 2025. Berdasarkan data Kementerian Agama Republik Indonesia, bulan ini akan berlangsung hingga 24 Agustus 2025, sementara versi Kalender Hijriah Global Muhammadiyah memperkirakan berakhir pada 23 Agustus 2025.

Meski makna historisnya telah bergeser, mengenal asal-usul Safar memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana Islam tidak hanya membentuk peribadahan, tetapi juga membingkai kehidupan sehari-hari. Dalam nama-nama seperti Safar, tersimpan perjalanan panjang peradaban. (*)

Wallohu`alam