• KEISLAMAN

Perpecahan dalam Islam Sudah Diramalkan, Ini Sikap Bijaknya

Yahya Sukamdani | Sabtu, 02/08/2025
Perpecahan dalam Islam Sudah Diramalkan, Ini Sikap Bijaknya Ilustrasi perbedaan pendapat

Terasmuslim.com - Agama Islam yang awalnya disampaikan secara murni oleh Nabi Muhammad ﷺ, dalam perjalanan sejarahnya mengalami perpecahan menjadi berbagai golongan. Fenomena ini tidak hanya menjadi bagian dari dinamika umat, tetapi juga telah disebutkan dalam sejumlah hadits sebagai sesuatu yang akan terjadi.

Salah satu hadits yang paling sering dikutip dalam konteks ini berasal dari riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi. Rasulullah ﷺ bersabda, “Umat Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, umat Nasrani menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya akan masuk neraka, kecuali satu.” Ketika ditanya siapa satu golongan itu, beliau menjawab, “Yang mengikuti aku dan para sahabatku.”

Hadits ini sering dijadikan rujukan untuk menggambarkan bahwa perpecahan dalam tubuh umat Islam adalah sesuatu yang telah diprediksi dan tidak terhindarkan. Namun, penting dicatat bahwa para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan makna "golongan" dan "yang selamat" dalam hadits tersebut. Sebagian menekankan pentingnya akidah yang lurus, sementara yang lain melihat pada praktik keagamaan dan sikap terhadap sunnah Nabi.

Secara historis, perpecahan mulai terlihat sejak wafatnya Nabi Muhammad ﷺ. Perbedaan pendapat soal kepemimpinan umat melahirkan kelompok besar seperti Sunni dan Syiah. Dalam perkembangannya, muncul pula kelompok-kelompok lain seperti Khawarij, Mu’tazilah, Sufi, hingga berbagai mazhab fiqih dan kalam. Masing-masing membawa corak pemikiran dan pendekatan keagamaan yang berbeda.

Meski berbeda, para ulama menyerukan agar umat tidak mudah mengkafirkan golongan lain hanya karena perbedaan pandangan dalam hal furu’ (cabang) agama. Persatuan dan ukhuwah tetap menjadi prinsip utama dalam menyikapi perbedaan. Ulama moderat seperti Imam Al-Ghazali maupun Ibnu Taimiyah pernah mengingatkan bahwa selama masih berada dalam koridor syahadat dan tidak menyalahi prinsip-prinsip dasar Islam, perbedaan tidak boleh dijadikan alasan untuk menghakimi keislaman seseorang.

Dewasa ini, munculnya banyak golongan baru dengan interpretasi yang beragam juga menjadi tantangan bagi persatuan umat. Media sosial, forum dakwah, dan ruang publik lainnya memperlihatkan bagaimana umat Islam terkadang terjebak dalam konflik internal akibat perbedaan pandangan. Karena itu, penting bagi umat untuk menekankan sikap tasamuh (toleransi), tafahum (saling memahami), dan tabayun (klarifikasi) dalam menyikapi perbedaan.